Kota Manado

Ujicoba ASPOL akan Mubazir

Manado – Sistem lalulintas Angkor, Shutter, Parkir dan Tol (ASPOL) tidak cocok dilaksanakan di Kota Manado. Kendala utama sistem transportasi yang rencananya direalisasikan Pemkot Manado tahun 2014 ini dinilai memiliki banyak kendala.

Setidaknya pendapat tersebut diutarakan pemerhati kota Michael Palohoon.

“Kendala utamanya, Kota Manado tidak memiliki ruang terbuka untuk pembangunan terminal dan kantong parkir yang mutlak harus dimiliki dalam penerapan sistem transportasi ASPOL,” ujar Michael.

Terkait rencana ujicoba sistem ASPOL tahun 2014 ini oleh Pemkot Manado disarankannya agar rencana tersebut dibatalkan.

“Ujicoba itu perlu membangun infrastruktur pendukung. Jika akhirnya tidak bisa dilakukan untuk jangka panjang akan menjadi mubazir dan membuang anggaran percuma,” tukasnya mengingatkan.

Diketahui, beberapa waktu lalu pada acara Pemkot Menyapa, Pemkot Menjawab di MTC Megamas, Walikota Manado Vicky Lumentut mengatakan akan melakukan ujicoba sistem transportasi ASPOL awal 2014 di Kota Manado.

3 tanggapan untuk “Ujicoba ASPOL akan Mubazir”

  1. Untuk menuju pada kota yg maju dan beradab tentunya membutuhkan suatu pemikiran2 yang membuat kota menjadi tertib dan rapi., terlebih untuk menjadikan Kota Manado yang sudah baik menjadi lebih baik lagi kedepan.

    Terhadap semua itu Bapak Walikota Manado berkerinduan sekali untuk membangun dan memajukan kota kita untuk menjadikan Manado sebagai Kota yang menyenangkqn sebagaimana misi dari Kota Manado.

    Konsep Manajemen transportasi ASPOL adalah merupqkan aalah satu upaya Pemerintah Kota untuk membuat sistem arus lalu lintas di kota kita menjadi lebih baik.
    Dimana dengan memanfaatkan bus sbg angkutan massal untuk melayani masyarakat penumpang sbg pemakai jasa angkutan umum., bahkan Pemerintah Kota menjamin free of charge/gratis bagi penumpang bus tsb. (Shuttle bus/bus yang beroperasi secara ulang alik).

    Ingqt hal seperti ini adalah konsep yang brilian, dimana masyarakat tidak dibebani oleh biaya transportasi lagi sebagai kompensasi dari transit dari Angkot ke Bus yang akan melayani secara shuttle (ulang alik) tsb.

    Menurut hemat sy, mestinya masyarakat pemakai jasa angkutan/penumpang bersyukur untuk pelaksanaan konsep dari program ini, karena disatu sisi tidak lagi pembebanan biaya tarip untuk transit di shuttle bus sebagai kompensasi, tetapi juga disisi lain akan lebih melancarkan ruas jalan dari berbagai hiruk pikuk kepadatan arus lalu lintas yang secara eksisting saat ini terjadi.
    Dan bahkan konsep ini akan berimbang dirasakan oleh semua pihak, baik Masyarakat pemakai jasa angkutan maupun masyarakat pemakai mobil pribadi/private car.
    Dimana untuk pemakai private car pun juga mendapatkan perlakuan yg sama, dmna tidak dperkenankan untuk melewati ruas jalan yg menjadi restrictment area, tapi disisi lain akan melancarkan arus lalu lintas yang ada di ruas2 jalan yqng ada di Kota Manado.
    Malah bahkan klo menurut hemat sy sebenarnya pada ruas jalan yg menjadi restrictmen area tsb (Jln. Samrat) sama sekali tidak dapat dilayani oleh kendaraan bermotor, termasuk bus, namun hanya dapat dilewati dengan berjalan kaki atau bersepeda (car free day all the time) sebagaimana yang dilaksanakan di negara2 maju., dimana hal ini akan mengurangi pencemaran terhadap udara., Kan disepanjang trotoar jln Samrat sdh sedang dipasangkan penutup/peneduh diatas trotoar, untuk menghindari pejalan kaki dari panasnya trik matahari dan hujan, saat berjalan diatas trotoar,.
    Namun apa yang digagas oleh Bapak Walikota sangat bagus, masih ada pertimbangan terhadap hwl itu, karena masih diberikan kesempatan kendaraan bermotor lewat, walaupun dibatasi, yaitu hanya dgn menggunakan bus. Kendaraan bermotor lainnya bukan berarti tidak diperbolehkan melewati ruas jln yg menjadi restrictmen area tsb, tetapi boleh lewat namun dgn dibebankan dan dipungut biaya yang besarannya dapat disesuaikan dengan kondisi besarnya kepadatan arus lalu lintas yg melewati ruas jalan Samrat tsb.
    Hal ini tetap akan mengurangi pencemaran udara, karena kendaraan bermotor yg lewat menjadi berkurang, tidak sepadat seperti sebelumnya.

    Adapun kekhawatiran Angkot yg headway nya menjadi rendah sehubungan dgn semakin pendeknya jarak tempuh yang akan dilewati dapat disolusikan dgn penambahan perpanjangan jarak rute angkot, yaitu dgn melewatkan/ditambahkan jarak tempuh angkotnya pada rute2 dipinggiran kota, manfaatnya bhw masyarakat penumpang tidak lagi berpindah angkot/transit lagi untuk mencapai lokasi tujuannya yang jauh yg membutuhkan transit/pindah moda angkutan lagi, karena sudah satu kali diangkut oleh angkot yg ditumpangi sebelumnya.
    Dengan demikian akan terjadi saving/penghematan pembayaran biaya tarip (terjadi efisiensi biaya).

    Oleh karenanya sy ingin mengajak masyarakat sekalian untuk berpikir positif dengan mengedepankan prinsip optimistis, jangan keburu apriori sebelum konsep program ASPOL ini dilaksanakan.

    Pemerintah tetap memperhitungkan adanya lahan sebagai tempat/areal parkir bagi kendaraan yang tidak diperbolehkan untuk melewati restrictmen area tsb (Jln. Samrat).

    Oleh karenanya mari kita sama2 mendukung pelaksanaan program ini sebagai manifestasi masyarakat yang taat akan aturan dan kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah.

    Yang pasti tidak ada Pemerintah yang menginginkan rakyatnya menderita.

    Demikian sekilas comment sy untuk pelaksanaan program ASPOL ini.

    Jadi tidaklah beralasan dikatakan bhw program ini akan menjadi mubasir sbgmna sikap pesimistis dari Pak Michael Palohoon yang terhormat.
    Demikian., Terima kasih.

  2. Bung Maikel, kalau banyak kendala, itu artinya tugas masyarakat dan pemerintah berkolaborasi untuk menghadapi dan mengatasinya. Bukan malah pesimis. Bung Maikel sendiri hadir saat Pak Walikota menyampaikan gagasan/konsep tentang aspol di MTC beberapa waktu yang lalu. Sekadar mengingatkan, Pak Walikota sudah sampaikan bahwa konsep aspol masih butuh penyempurnaan sehingga pemerintah sangat membutuhkan masukan, tanggapan, saran, dan kritik terhadap konsep dimaksud. Sebagai pemerhati, seharusnya juga menjadi tugas Bung untuk mencarikan solusi. Soal terminal dan kantong parkir tentu sudah dipikirkan oleh instansi terkait perencanaan seperti Bappeda, DisHub, dan PU. Pesimisme Bung sebenarnya tidak akan banyak menolong menyelesaikan masalah kemacetan di Manado.

    • Sudah saatnya masyarakat open-minded.. Terkadang yg kita butuhkan adalah satu lompatan besar dan bukan beberapa langkah kecil. (Ternyata kita bertiga hadir waktu di MTC krn sy MC-nya) (y)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara