Kota Manado

Tulis Ini di Facebook, Chris Longdong ‘Tampar’ Yang Suka Buang Sampah Sembarangan

 

Postingan Chris Longdong di Facebook akhir Juni lalu
Postingan Chris Longdong di Facebook akhir Juni lalu

 

 

 

 

Manado – MASIH INGAT BANJIR DAN LONGSOR PARAH DI MANADO? PERHATIAN DIBACA SEJENAK BAGI WARGA MANADO, MINUT, TOMOHON, MINAHASA DAN SEKITARNYA!!

Itulah kalimat pembuka dari tulisan Chris Longdong dalam akun media sosial Facebook miliknyapada akhir Juni lalu yang menggunakan penekanan berupa huruf kapital dan diakhiri dengan tanda seru.

Tulisan Chris ini sendiri berisi soal kepedulian dan penyesalannya soal masalah sampah yang seolah kurang diperhatikan oleh sebagian masyarakat, diantaranya sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dan dibuang kesembarang tempat oleh masyarakat itu sendiri tanpa memikirkan dampakknya bagi lingkungan yang juga merupakan tempat tinggal dari masyarakat.

Dalam tulisannya, Chris yang juga merupakan seorang pengusaha muda di Manado ini mengingatkan bahwa Tempat Pembuangan Akhir Sampah alias TPA Sumompo Manado dan TPA Aertembaga Bitung sudah hampir penuh karena umur kedua tempat itu rencananya hanya sampai 2017 sementara beberapa wilayah di Kabupaten Minahasa Utara dan Minahasa juga belum terlayani oleh pengangkutan sampah.

Menurutnya, itu bisa jadi alasan kenapa ada sampah di depan jalan yang mungkin belum bisa diangkat karena mau buang atau tampung dimana lagi.

Chris pun meyakinkan bahwa data yang dimilikinya valid, dimana tahun 2017 ini sedang dalam finalisasi perencanaan teknik TPA Regional Sulut yang melayani 4 kabupaten/kota yaitu: Kabupaten Minahasa, Kota Manado, Kota Bitung, Kabupaten Minahasa Utara.

“Mungkin ada yang berpikir, kan saya hanya buang sampah sedikit disungai. Tapi coba hitung bila ada 5000 orang seperti itu membuang rata-rata 1 sampah anggaplah plastik perhari walau orang-orangnya berbeda. Selama 30 hari sudah ada 150.000 sampah plastik. Bila 5000 orang yang bergantian buang sampah selama 1 tahun sudah 1.825.000 sampah plastik,” kata Chris.

Hal yang sama pun ditujukannya kepada jenis-jenis usaha yang disebutnya memproduksi sampah, misalnya penggunaan sterafoam sebagai bungkus makanan. Bila ada 100 RM atau Resto punya order 50 bungkus sterafoam per hari sudah ada 5000 sampah sterafoam bila 1tahun ada 1,825,000 sampah sterafoam dan masih banyak lagi jenis-jenis sampah lainnya yang bila ditotal jumlahnya bisa bermilyaran sampah per tahun.

Dengan cuaca di kota Manado dan sekitarnya yang sering diguyur hujan dengan intensitas tinggi, kepada BeritaManado.com, Chris Longdong pun menyebut kepedulian akan lingkungan membuatnya perlu mengajak orang lain untuk berhenti bersikap acuh tak acuh terhadap sampah.

“Ini kepedulian sebenarnya. Sampah itu tanggungjawab semua orang bukan hanya pemerintah. Jadi teringat banjir bandang lalu, saluran-saluran air tersumbat sampah sehingga berdampak buruk bagi masyarakat,” ujar Chris.

Diakhir tulisannya, Chris pun memberi tips bagaimana memperlakukan bumi atau minimal daerah sekitar dengan bijak dan dengan beberapa cara sederhana, yaitu:
– Batasi penggunaan produk yang berpotensi menghasilkan sampah
– Gunakan tas belanja, tempat makan, tempat minum dan lainnya yang bisa digunakan kembali
– Gunakan barang bekas yang bisa dimodifikasi menjadi produk layak pakai
-cara lainnya bisa dilihat di Google.

“Yang hobi buang sampah di saluran/drainase/selokan. Apalagi yang sudah sekolah TK, SD, SMP, SMA, S1, S2, S3, DR, Prof terus masih suka buang di sembarang tempat, mau ajar apa ke anak-anak kalau tidak bisa beri contoh? Nanti kalau banjir yang disalahkan pemerintah, padahal yang buang sampah sembarangan diri sendiri,” pungkasnya. (srisurya)

 

 

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara