
Bitung, BeritaManado.com – Pemerintah Kota Bitung bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Utara menggelar High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bitung, Rabu (10/9/2025).
Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas harga pangan dan mengendalikan inflasi di Sulawesi Utara.
Dalam pemaparannya, Kepala Perwakilan BI Sulut Joko Supratikto menyebutkan inflasi Sulawesi Utara pada Agustus 2025 mencatatkan deflasi sebesar 1,11 persen (mtm).
Hal ini dipengaruhi panen raya tomat dan cabai, serta normalisasi pasokan daging babi. Meski demikian, volatilitas inflasi bulanan di Sulut masih relatif tinggi yaitu 0,87 persen, di atas rata-rata nasional 0,54 persen.
“Gejolak harga yang terlalu tinggi bisa membebani masyarakat, sementara penurunan harga yang dalam justru merugikan petani. Karena itu, kerja sama daerah menjadi kunci menyeimbangkan kondisi,” jelasnya.
TPID Bitung menyepakati empat langkah utama: operasi pasar dan gerakan pangan murah, kerja sama antar daerah, subsidi transportasi dalam distribusi pangan, serta penguatan komunikasi publik.
Sebagai tindak lanjut, ditandatangani pula kerja sama G2G antara Pemerintah Kota Bitung dan Kabupaten Minahasa Utara untuk menjaga pasokan komoditas strategis.
Wakil Wali Kota Bitung, Randito Maringka, menegaskan bahwa kolaborasi menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas harga.
“Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri. Gotong royong adalah kunci agar masyarakat tetap terlindungi dari lonjakan harga,” katanya.
Dengan langkah terukur ini, TPID Bitung optimistis inflasi Sulut dapat terkendali dalam kisaran sasaran nasional 2,5 persen ±1 persen, sekaligus menjaga daya beli dan kesejahteraan masyarakat.
(***/srisurya)
