
Manado, BeritaManado.com – Sebuah momentum berharga bagi dunia seni bela diri tradisional terjadi di Kota Manado, dimana Tim peneliti dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung hadir langsung menyaksikan dan meneliti keunikan Perguruan Pencak Silat Laba-Laba Merah, salah satu warisan budaya lokal yang masih lestari di tengah perkembangan zaman.
Kunjungan riset tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn., dosen dan peneliti penerima Hibah Kemendikbudristek Skema Fundamental 2025, bersama tim yang terdiri dari Dr. Wanda Listiani, M.Ds., Anrilia, Ph.D., dan Dra. Suryanti, M.Pd. Mereka menelusuri langsung kekayaan nilai dan filosofi yang melekat pada seni bela diri khas Manado itu.
Kegiatan berlangsung di Taman Kesatuan Bangsa (TKB) Manado, di mana para pendekar Laba-Laba Merah mempersembahkan atraksi bela diri yang memukau.
Dengan diiringi tabuhan gendang dan penggunaan berbagai properti tradisional, suasana taman mendadak berubah menjadi panggung budaya yang sarat makna dan semangat kebangsaan.
Tim ISBI Bandung diterima dengan hangat oleh Sekretaris Umum Pengprov IPSI Sulut, Nofri Lapasiang, serta Kabid Organisasi Pengprov IPSI Sulut, Naftali Bawataa.
Kehadiran para akademisi ini juga disambut antusias oleh Megawati Hinta dan Mirna Hinta, penerus sah Perguruan Laba-Laba Merah yang dahulu didirikan oleh Alm. Sarifudin Hinta.
Dalam riset tersebut, tim peneliti tidak hanya menonton atraksi, tetapi juga mendokumentasikan berbagai jurus khas dan berdialog langsung dengan para pendekar.
Mereka menggali filosofi di balik setiap gerakan tentang keseimbangan antara fisik, mental, dan spiritual yang menjadi ciri kuat pencak silat tradisional.
“Kami tertarik meneliti bagaimana silat tradisional tumbuh dengan identitas lokal yang begitu kuat. Perguruan Laba-Laba Merah menunjukkan bahwa silat bukan sekadar seni bertarung, melainkan juga bentuk pembentukan karakter, etika, dan penghormatan terhadap budaya,” ujar Prof. Sri Rustiyanti.
Perguruan Silat Laba-Laba Merah dikenal dengan busana merah khas yang menjadi simbol keberanian dan semangat juang. Seni bela diri ini diwariskan turun-temurun di kalangan keluarga besar Hinta dan para murid seperti Sita Hinta, Ridwan Ismail, Kasim dan Kisman bin Sijek, Mansur Elong, Munir Elong, Keyza P. Nur, Robin P. Nur, serta para penabuh gendang seperti Bapak Humoka, Adnan, dan Buang.
Sementara itu, Ketua Perguruan Laba-Laba Merah, Megawati Hinta, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas kunjungan tim peneliti tersebut.
“Kami sangat berterima kasih karena seni bela diri tradisional dari Manado mendapat perhatian dari kalangan akademik. Ini bukan hanya tentang bela diri, tetapi tentang menjaga warisan leluhur agar tidak punah,” ujarnya dengan haru.
Kegiatan riset ini merupakan bagian dari proyek kolaboratif ISBI Bandung, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dan ISI Padangpanjang dalam program pelestarian seni bela diri tradisional Indonesia.
Hasil penelitian ini juga menjadi bagian dari persiapan pembukaan Program Studi Pencak Silat di ISBI Bandung yang tengah digodok.
(Jhonli Kaletuang)
