
Bitung – Tiga kelurahan di Pulau Lembeh menerima bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) tahap I dari Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi. Ketiga kelurahan yang menerima PLTS ini adalah kelurahan Batu Kota, Gunung Woka dan Lirang.
Penyerahan bantuan PLTS ini diserahkan Asiten I, Fabian Kaloh di Kantor ESDM Kota Bitung disaksikan Kadis ESDM Kota Bitung, Alex Watimena, Rabu (18/12/13).
Dalam laporan, Watimena mengatakan, pemberian bantuan ini dalam rangka mensukseskan program listrik masuk pulau yang bekerjasama dengan Dinas ESDM Provinsi Sulut berdasarkan surat ESDM Kota Bitung tangal 20 Maret 2013 Nomor 46/ESDM/III/2013 tentang pengantar usulan calon penerima PLTS di tiga kelurahan Pulau Lembeh.
“Dengan rincian, Kelurahan Batu Kota sebanyak 115 unit, Gunung Woka 50 unit dan Lirang 21 unit sesuai arahan Dinas ESDM Provinsi Sulut. Dan penyerahan tahap II direncanakan akan diberikan pada tahun 2014,” kata Watimena.
Kaloh dalam sambutannya mengatakan, pemberian bantuan ini merupakan realisasi melalui tekat Pemkot dalam mewujudkan pemeratan guna peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Bitung untuk menikmati penerangan rumah yang memadai. Untuk itu diharapkan agar bantuan 186 paket dapat disalurkan secara merata bagi penduduk yang belum sama sekali mendapat penerangan dari pihak PLN.
“Dan diharapkan masyarakat yang menerima bantuan ini agar merawat dan menjaga dengan baik, sehingga penggunaanya dapat bertahan lama,” kata Kaloh.(*/enk)

I wish to write this note to inform the people of Bitung about the true proffession alism of First Assistant, Fabian Kaloh.
I have known Pa Ebby (Fabian Kaloh) for the last 3 years since my first visit to Manado where I was assisting the poor people of Molas, Tumingting and later in Labuanuki, Kampong Empang.
Sadly I was cheated by the people who I trusted in Molas. They were the three brothers, Noldy Thaib, Yunnan Thaib and Marphin Thaib who settled in Manado and originated from Gorontalo Province. I was cheated of money and even the items that I had brought along as excess baggage on Silkair flight from Singapore which was to be given away to the poor at Molas.
I am a retired civil servant from Singapore and helping the poor and needy had always been my priority.
When I came to know Pa Ebby, things started to change as he took great care of me by offering me the right advice and showed me the way to carry on. He also apologied to me for the loss that I incurred and took steps that it would not be repeated.
I have been safe and confident in Manado because of Pa Ebby and his wonderful and helpful wife, Ibu Greity.
If there are more people like Pa Ebby and Ibu Greity, I am sure many foreigners would want to invest in Sulut instead of venturing into other places like Makassar, Lombok or Bali.
These are the type of people that are badly needed in Sulut.
Please publish this comments in your Berita Manado.com so that kind and wise people like Pa Ebby and Ibu Greity can become known to the people in Sulut and Bitung especially.
“Pa Ebby dan Ibu Greity, Uncle Dave dari Singapore tidak bisa lupa semua bantuan dan nasihat dari kamu. Kalo saya tidak jumpa kamu, uang saya semua sudah habis di sana. Bantuan kamu saya tidak bisa lupa selama saya hidup. Anak saya, Iqbal dan isteri dia, Sri Wahyuni dari Blok G Lembeh permai pun tidak bisa lupa bantuan kamu.
Kamu harus jalan tugas bagitu dan tidak lama Bitung dpat lebih parawisata.”
Hidup Indonesia, Hidup Sulut.
Sukhdev Singh Gill
Kapal Blue Horizon,
Jetty APB, Tandarusa
Bitung
Sulut