
Manado – AM Hendropriyono mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) kepada relawan Jokowi di Jakarta menceritakan pengalamannya di masa lalu.
Mantan Panglima Kodam (Pangdam) Jaya ini menjelaskan jika Prabowo Subianto kala mengikuti tes pra kesehatan jiwa (Prakeswa), hasilnya hanya grade 4 atau mendekati Schizoprenia yang artinya terkena masalah sedikit bisa gila.
Menurut analisa Dr. dr. H. Taufiq Pasiak, M.PdI, M.Kes, Kepala Pusat Studi otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi, kondisi Prabowo Subianto (PS) saat itu lebih dipengaruhi tekanan situasi dan kondisi sebagai menantu Presiden yang tengah berkuasa.
“Konteks yang diceritakan Hendropriyono itu konteks dulu, jaman ketika PS berada di ring utama pusaran kekuasaan bangsa,” ujarnya kepada BeritaManado.com (4/6/2014).
Lebih lanjut Pasiak menjelaskan jika PS terkesan arogan, maka itu bisa dipahami karena keadaannya sebagai orang berpunya dan berasal dari keturunan orang terhormat.
“Rata-rata mereka yang berasal dari keluarga begini, memiliki sifat seperti itu, namun sejalan dengan waktu proses pendewasaan itu terjadi, ia berinteraksi dengan pelbagai kalangan dan terlebih-terlebih ia sudah mengalami pelbagai tekanan dalam hidupnya,”urainya.
Lebih detail Pasiak menjelaskan, PS yang sudah mulai menua seperti lazimnya orang lain telah berubah dalam cara dia memandang persoalan. Kesan temperamental PS, itu meski masih terbawa, tapi tampaknya ia sudah mampu meletakkan dimana konteksnya.
“Sistem kendali dirinya sudah tersusun dengan baik akibat pelbagai persoalan yang dihadapinyanya selama perjalanan hidupnya,” Pasiak.
Pasiak menambahkan bila pada orang yang menua, terjadi pergeseran fungsi otak, shift to right (bergeser ke kanan). dimana otak kanan menjadi dominan.
“Otak kanan yang dominan memungkinkan seseorang menjadi emosional, intuitif dan matang. Itu sebabnya, orang tua umumnya menjadi lebih wise (bijak) dan matang,” pungkas Pasiak. (*/quin)

WIKIPEDIA
Kisah ‘Tukang Jagal’…
A.M. Hendropriyono
Peristiwa Talangsari…
A.M. Hendropriyono…
membantai 27 warga masyarakat Lampung Timur 7 Februari 1989.
Sekelompok masyarakat dipimpin oleh Warsidi dibantai tanpa ampun oleh A.M.Hendropriyono Komandan Korem (Danrem) 043 Garuda Hitam Lampung… karena kelompok tersebut telah membunuh satu orang tentara…Kapten Soetiman…
Kelompok Warsidi itu bukan tentara…
mereka sama sekali tak punya senjata…bahkan pistol sekalipun…namun dibantai dengan sadis oleh A.M. Hendropriyono…
padahal jika Hendropriyono punya kemampuan militer seperti Prabowo…kelompok itu tak perlu mati sia-sia dan dapat ditangkap untuk diadili…
Lucunya Hendropriyono yang membantai warga sipil karena membunuh satu orang bawahannya…. menyebut Prabowo ‘gila’…
siapa yang gila…?????