
Manado — Stevanus Rinno Ticoalu atau yang akrab disapa Stevan adalah anak muda Kawanua kelahiran Surabaya, 4 September 1996 berdarah Laikit, Dimembe, Minut dan Jawa.
Putra pertama pasangan Poulus Rocky Ticoalu dan RA Ulyantien Wilhelmina Setiyaningsih ini terbilang masuk dalam kategori anak muda yang menginspirasi karena berani mengambil keputusan untuk perjalanan karir dan terlibat dalam berbagai organisasi hingga menjadi relawan mengajar bagi anak jalanan.
Stevan merupakan Basic Aircraft Engineer dan pernah bekerja dibidang tersebut selama 2 tahun, sebelum akhirnya menjadi Account Manager di anak perusahaan Djarum Group di bidang Telco.
Keputusan besar pun diambil oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi UT ini, yaitu keluar dari pekerjaannya dan mulai membangun usaha sendiri dibidang kuliner khas Manado yang diberi brand INNO Manado.
“Dulu waktu kecil cita-cita Pilot, tapi kini memang jadi pengusaha,” ujar Stevan.
Hal tersebut jelas terlihat karena Stevan ternyata sekolah penerbangan setingkat SMA di Semarang.
Menghabiskan masa kecil di Surabaya, Jakarta dan sempat sekolah di SD Katolik Laikit sampai kelas 3 SD lalu sekolah sampai ke Semarang, hingga menetap di Jakarta, tak lantas membuat Stevan lupa kalau dalam dirinya mengalir darah Sulawesi Utara.
Stevan masih bisa berbahasa daerah khususnya Manado, terlebih selain keluarga, anak-anak muda sesama Kawanua di Jakarta juga masih sering berkomunikasi menggunakan bahasa Manado.
Terang-terangan, Stevan mengungkapkan, hal yang paling dirindukan dari kampung Dimembe dan Sulut secara umum adalah kebersamaan, kekeluargaan, kekayaan alam, budaya dan wisatanya, perayaan natal, tahun baru dan paskah yang meriah.
Bukan hanya itu saja, dalam target jangka panjang Stevan, selain konsisten untuk memajukan usahanya saat ini, Stevan juga punya keinginan untuk memperkenalkan kuliner asal Manado kepada masyarakat Jakarta, Indonesia dan sampai ke mancanegara.
“Melihat Sulut dan kampung halaman saat ini, banyak sekali potensi yang masih bisa dikembangkan. Saya ingin sekali membangun tempat wisata kuliner dan agraria terbesar di Sulut, khususnya di kampung saya, Laikit Dimembe,” kata Stevan.
Selain mulai menjadi pengusaha, pemilik filosofi hidup Born To Be Awesome ini juga terlibat dalam berbagai organisasi, baik itu komunitas, relawan, bahkan ajang pemilihan Nyong Kawanua.

Tahun 2018 lalu, Stevan berhasil menjadi pemenang 1 Nyong Kawanua Indonesia yang membuatnya tergabung dalam Ikatan Nyong Noni Kawanua Indonesia, salah satu perannya adalah menjadi duta kawanua, dimana organisasi ini dibentuk oleh Kerukunan Keluarga Kawanua yang wilayahnya lintas nasional dan internasional, memiliki berbagai macam kegiatan bersifat budaya, sosial dan pariwisata.
Nyong satu ini juga tergabung dalam Generasi Muda Kawanua, yaitu pemuda pemudi Kawanua secara umum yang baru dibentuk dan Stevan dipercayakan menjabat Sekretaris Jendral (Sekjend).
“Untuk Generasi Muda Kawanua, kegiatan kami berkaitan dengan memajukan SDM yang ada di tanah rantau, dengan penerapan Semboyan Sitou Timou Tumou Tou,” ungkap Stevan.
Selain itu, Stevan juga aktif dalam kegiatan kerohanian bersama Kawanua Katolik atau OMK Kawanua Jakarta, yaitu anak muda Kawanua beragama Katolik yang membentuk sebuah sanggar bernama “Sanggar Makaria” yang didalamnya terdapat tarian katrili, maengket, tari jajar, dan choir, sebagai wadah anak muda perantauan untuk berkarya dan pelayanan.
Ikatan Abang None Buku, Abhinaya Dirgantara Indonesia dan mengajar anak-anak jalanan di RPTRA Jakarta juga merupakan bagian dari aktifitas Stevan.
