Agama dan Pendidikan

Stand Sulut di Bazaar Budaya UKDW Yogyakarta Memiriskan

Tim Katrili mahasiswi asal Sulut usai pentas di Bazaar Budaya UKDW, Yogyakarta, pekan lalu.

Tim Katrili mahasiswi asal Sulut usai pentas di Bazaar Budaya UKDW, Yogyakarta, pekan lalu.

Manado – Meski menjadi leading sector di Provinsi Sulut, namun upaya untuk mempromosikan budaya dan pariwisata bumi Nyiur Melambai masih sangat minim.

Salah satunya dengan memanfaatkan para mahasiswa asal Sulut yang kuliah di luar daerah, terkesan diabaikan.

Seperti yang dialami oleh para mahasiswa asal Sulut yang menimba ilmu di Universitas Kristen Duta Wacana ( UKDW ) Yogyakarta. Para mahasiswa terpaksa menyisihkan uang jajan mereka untuk mendirikan dan menghiasi stand Sulut di Bazaar Budaya yang digelar universitas mereka, 28 hingga 30 Oktober 2013 lalu.

Dengan dana yang minim, stand Sulut dihiasi mereka dengan foto-foto objek wisata yang mereka cetak sendiri. Replika kain bentenan pun mereka cetak dan tempelkan di dinding stand agar nuansa Sulut bisa nampak. Mereka juga memajang pakaian adat yang sepintas mirip dengan adat Minahasa agar stand terlihat ada isinya.

Berbeda dengan stand-stand provinsi lain yang meriah diisi dengan instrumen budaya yang asli dikirim oleh pemerintah provinsi masing-masing, seperti pakaian adat, alat-alat musik, alat-alat perang, kain khas, serta furnitur asli dari daerah.

Kepada wartawan, dalam rilisnya, Ketua Himpunan Pemuda Mahasiswa Kawanua (HPMK), Clief Chandra Surentu mengakui kondisi stand Sulut memiriskan karena tak ada dukungan dari pemerintah provinsi (pemprov) maupun pemerintah kabupaten/kota.

“Sama sekali tidak ada dukungan dari pemerintah daerah pada kegiatan yang kami ikuti pekan lalu. Kegiatan-kegiatan yang lain yang diikuti mahasiswa asal Sulut di Yogyakarta pun tidak ada,” ungkap Surentu, Sabtu (2/11).

Ia juga mengaku tak ada fasilitas berupa inventaris pariwisata dan budaya yang diberikan pemerintah kepada mereka, agar jika ada kegiatan-kegiatan mereka bisa ikut berpartisipasi mempromosikan Sulut.

“Kegiatan-kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa asal Sulut di Yogyakarta, tak ada inventaris pariwisata dan kebudayaan dari pemerintah yang kami gunakan untuk mengikuti parade kebudayaan. Bantuan dana pun tak ada,” ucap dia lagi.

Meski demikian, semangat mereka untuk mensukseskan kegiatan dan mempromosikan Sulut tak surut. “Kami bisa berbangga hati karena walaupun dukungan dari pemerintah terhadap HPMK tak menyurutkan semangat kami untuk tetap bergandeng tangan dan saling membantu untuk bisa mempromosikan dan mengharumkan nama Sulut di luar daerah,” ucap mahasiswi asal Sulut, Bellavenia Walewangko yang diiyakan para teman-temannya.

“Kami tetap akan semangat meski dana yang kami gunakan kami peroleh dari sumbangan sukarela yang kami cari, serta uang jajan milik kami yang kami sisihkan. Kami sudah pernah meminta bantuan ke pemerintah tapi belum mendapat respon,” tambah mereka.

Mereka pun berharap, di kemudian hari, pemerintah daerah akan memperhatikan mereka dalam kegiatan-kegiatan selanjutnya. “Kami sangat berharap agar apa yang kami lakukan untuk mempromosikan pariwisata dan budaya Sulut bisa mendapatkan dukungan dari pemerintah,” pungkas mereka. (Agust Hari)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara