
Bitung – Puluhan siswa SD dan SMP di kelurahan Pinangunian Kecamatan Aertembaga begitu antusias menatap layar LCD yang menampilkan gambar-gambar satwa. Bahkan ada yang berusaha tidak berkedip menatap gambar yang ditampilkan dua Koordinator Pendidikan Konservasi Tangkoko, Victor Wodi dan Mathilde Chanvin.
“Waaa….Yaki,” ujar sejumlah siswa ketika Wodi dan Chanvin menampilkan gambar salah satu satwa penghuni Cagar Alam Tangkoko-Batuputih, Yaki atau Macaca nigra.
“Itu burung apa depe nama,” tanya salah satu siswa SD ketika gambar burung Rangkong ditampilkan.
“Torang belum pernah lia langsung tu binatang yang ada di layar, cuma lia di gambar deng di TV,” kata siswa lainnya dengan mimik penasaran.
Wodi dan Chanvin sendiri dengan sabar menjawab dan menjelaskan sedetail mungkin soal satwa Tangkoko yang mereka tampilkan di layar LCD. Kendati hanya lewat gambar, namun keduanya berupaya menjawab rasa penasaran para siswa dan siswi di kelurahan Pinangunian tersebut.
“Memang harus penuh kesabaran dalam menghadapi para siswa, apalagi dijaman ini, banyak anak-anak yang hanya bisa mengenali satwa-satwa khas yang kita miliki seperti Yaki, burung Rangkong, Tarsius, Babi Hutan, Rusa dan Anoa lewat gambar dan cerita saja,” jelas Wodi.
Wodi sendiri mengaku, seandainya keberdaan hutan dan aksi perburuan bisa dihindari dari awal, tentu para siswa yang ada di Kelurahan Pinangunian masih bisa melihat langsung satwa-satwa tersebut. Karena dari catatan, Pinangunian juga kerap dilalui satwa untuk mencari makan, namun itu beberapa puluh tahun yang lalu dan kini sudah tidak pernah terlihat lagi.
“Perburuan masih terus mengancam populasi satwa Cagar Alam Tangkoko-Dua Sudara hingga kini dan kami berupaya untuk mencegah lewat Pendidikan Konservasi Tangkoko. Dimana program ini memberikan sosialisasi ke sejumlah sekolah yang ada di lingkar Cagar Alam Tangkoko-Dua Sudara,” katanya.
Dan, Kamis (24/5) lalu, giliran siswa SD GMIM 9 Pinangunian yang didatangi Wodi dan Chanvin untuk mensosialisasikan pentingnya menjaga alam yang notabene merupakan rumah bagi satwa khas Sulut. “Bukan hanya sosialisasi, namun kami juga memberikan penghargaan kepada siswa yang dinilai unggul. Seperti dua siswa SMP 14 Pinagunian yang mendapatkan sertifikat dan buku karena dari penilaian bisa menangkap serta merubah prilaku dalam melestarikan alam,” katanya.
Sementara itu, Kadis Pertanian dan Kehutanan dan Ketahanan Pangan Kota Bitung, Lusye Macalawang yang ikut hadir dalam acara sosialisasi mengaku sangat mensuport program Pendidikan Konservasi Tangkoko tersebut. Apalagi sasarannya adalah para siswa sekolah yang diberikan pemahaman soal pentingnya menjaga lingkungan dan satwa.
“Kita sangat mensuport kegiatan ini dan kita berharap kedepannya jika memang para koordinator memerlukan bantuan kita siap membantu,” kata Macalawang.(en)
