
Manado, BeritaManado.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk memperkuat ketahanan ekonomi daerah di tengah dinamika global.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Daniel Mewengkang, yang mewakili Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, dalam acara BI BASUARA x BACIRITA APBN: Diseminasi Kebijakan Moneter dan Fiskal yang digelar di Hotel Four Points by Sheraton Manado, Kamis (25/9/2025).
“Sinergi ini menjadi kunci untuk mewujudkan Sulawesi Utara yang Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan. Di tengah ketidakpastian global, kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan Ditjen Perbendaharaan sangat penting untuk menjaga stabilitas harga, mendorong investasi, serta memperkuat perlindungan sosial bagi masyarakat,” ujar Daniel Mewengkang.
Pertumbuhan Ekonomi Sulut Tetap Solid
Ia menyampaikan bahwa di tengah tantangan global seperti inflasi dunia, transisi energi, dan perubahan iklim, perekonomian Sulut tetap menunjukkan kinerja positif.
Pada 2023–2024, pertumbuhan ekonomi daerah stabil di kisaran 5,4 persen, inflasi terkendali berkat kerja keras Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), sementara angka kemiskinan dan pengangguran terus menurun.
“Komitmen kita terhadap lingkungan juga terlihat nyata. Saat ini pemanfaatan energi terbarukan di Sulut telah mencapai lebih dari 37 persen, yang menunjukkan langkah konkret menuju transisi energi bersih,” tambahnya.
Ekonomi Hijau dan Perdagangan Karbon Jadi Fokus
Daniel juga menegaskan bahwa pemerintah provinsi telah menyusun visi pembangunan menuju Sulawesi Utara Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan yang didukung delapan misi utama serta 17 program prioritas dan 45 kegiatan strategis.
Salah satu fokus penting adalah pengembangan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sebagai instrumen pengendalian emisi sekaligus peluang ekonomi baru.
“NEK akan membuka ruang perdagangan karbon dan insentif hijau, mendukung pertanian, kehutanan, dan kelautan yang ramah lingkungan, serta memperkuat posisi Sulawesi Utara sebagai pintu gerbang ekonomi hijau di Asia-Pasifik,” jelasnya.
Pemerintah juga akan melibatkan BUMD sebagai motor penggerak dalam pengelolaan perdagangan karbon dan percepatan transisi menuju ekonomi hijau.
Harapan untuk Sinergi ke Depan
Mengakhiri sambutannya, Daniel berharap agar sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, DPRD, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil semakin erat.
Selain transisi energi, pemerintah juga akan mempercepat digitalisasi layanan publik, keuangan daerah, dan UMKM untuk mendorong pertumbuhan inklusif.
“Dengan sinergi kebijakan moneter dan fiskal yang selaras, didukung semangat ekonomi hijau dan potensi perdagangan karbon, saya yakin Sulawesi Utara mampu menjadi lokomotif pembangunan di Kawasan Timur Indonesia dan pintu gerbang ekonomi hijau-biru Asia Pasifik,” pungkasnya.
(***/srisurya)
