Langsung dapat saya simpulkan para artis dan atlit di atas tidak memiliki Money Management Skills (keterampilan pengelolaan keuangan) yang handal.
Mengapa mereka tidak melakukan seperti yang dilakukan artis dan atlet luar negeri dimana suatu Agent Management yang akan mengelola seluruh urusan bisnis termasuk keuangan serta pendapatan yang mengalir deras di masa kejayaannya.
Bukankah dengan pemasukan yang miliaran saat aktif dulu bisa didepositokan, diikutkan asuransi, diinvestasikan, dibelikan aset ataupun saham, dan lain sebagainya?
Kemana saja uang itu pergi dan hilang?
Still, I cannot figure out how all the money went away.
Apakah semua penghasilannya dipakai untuk hura-hura, dihamburkan hanya untuk kesenangan duniawi?
Jika begitu, berarti mereka telah menjalani suatu lifestyle (gaya hidup) yang tidak tepat tanpa memikirkan masa depan.
Yah, semua karena lifestyle.
Menurut ahli psikologi Austria, Alfred Adler, gaya hidup didefinisikan sebagai ketertarikan, pendapat, tindakan, dan orientasi perilaku seseorang atau kelompok orang terhadap lingkungan tempat dimana seseorang berada.
Dengan demikian, lifestyle nantinya akan bersinggungan erat dengan keadaan diri sendiri dalam bertindak terhadap lingkungan dimana seseorang hidup dan tinggal.
Jika lifestyle kita tercipta secara positif, tentunya kita pun akan bertindak secara baik dan sebaliknya.
Menyikapi apa yang dihadapi Dorce Gamalama, sering juga saya saksikan bagaimana banyak kenalan dan saudara yang dulunya punya ‘kelimpahan’ akhirnya jatuh dalam masalah keuangan hanya karena lifestyle yang salah.
Senang saya mendengar bahwa moto orang Manado ‘biar kalah nasi asal jangan kalah aksi’ sudah mulai hilang di generasi saat ini.
Walaupun saya tahu masih ada saja segelintir pribadi yang masih memegang moto ini meskipun keuangan mereka tidaklah menunjang.
Inilah katerori kaum ‘BPJS’ (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita).
Tidak heran banyak sekali dari kita sering dikejar debt collector hanya karena gaya hidup yang mengikuti pola BPJS.
Anak kedua saya pernah mengirim suatu pesan WhatsApp yang berisi video inspiratif yang menyarankan jika kita ingin membeli sesuatu yang mahal seharusnya kita memiliki nilai keuangan 10 kali lipat dari harga jual barang tersebut, bukan sebaliknya.
Oleh karenanya, marilah lebih bijak dalam menangani keuangan kita.
