Catatan: Teddy Tandaju, SE., MBA (Adv.)
Dosen Prodi Manajemen, Unika De La Salle Manado
SAYA telah menjadi seorang penggemar ‘berat’ tenis hampir empat dekade sejak masa kejayaan John McEnroe dan Martina Navratilova di era tahun 1980-an.
Sejak saat itu, setiap adanya kejuaran Grand Slams, tak akan saya lewati beritanya bahkan saya rela membatalkan beberapa appointments dan meluangkan waktu berjam-jam menyaksikan olahraga ‘elegan’ ini.
Sepanjang tahun, hanya terdapat empat kejuaraan Tennis Grand Slams yang diawali dari awal tahun Australian Open, Wimbledon, French Open dan ditutup dengan US Open.
Sepanjang pengamatan saya, hampir seluruh final Grand Slams akan mempertontonkan pertandingan seru dan menarik dikarenakan para finalis telah melewati enam babak penyisian sebelumnya.
Sehingga siapapun yang tampil di final adalah mereka yang telah teruji.
Dari sekian banyaknya final Grand Slam, salah satu yang paling menarik perhatian saya yakni Australian Open 2022 yang baru saja berakhir di ujung Januari, khususnya Final Tunggal Putera yang mempertemukan dua generasi berbeda; Rafael Nadal (Spanyol) dan Daniil Medvedev (Rusia).
Sebagai pendukung Nadal, saya memfavoritkannya untuk dapat memenangkan Grand Slam ini dan meraih gelar Pemegang Grand Slam terbanyak dalam sejarah tenis modern dan mengungguli dua saingan beratnya; Roger Federer (Swedia) dan Novak Djokovic (Serbia) dimana hingga akhir 2021 ketiganya meraih angka pemenang Grand Slam yang sama; 20.
Apa yang saya harapkan, dan kebanyakan penggemar tenis dunia impikan, nampaknya tidak akan terwujud saat pertandingan memasuki set kedua.
Medvedev yang saat ini menduduki peringkat dua dunia, telah memenangkan dua set awal dan hanya membutuhkan satu set lagi untuk mengubur impian Nadal dan para fans-nya.
Saya pun ikut pesimis saat jalannya pertandingan telah memasuki set ketiga dengan keunggulan Medvedev 3-2 (40-0).
Dalam pikiran saya, ‘it’s all over’.
Sangat berat bagi Nadal untuk dapat memenangkan tiga set berikutnya apalagi usia Nadal 10 tahun lebih tua.
Tentunya, dilihat dari segi tenaga dan kegesitan dalam memukul dan mengejar bola, akan berkurang dan tidak selincah saat Nadal berusia 25 tahun.
Saya pun terus menonton hanya untuk menghabiskan waktu dan menunggu usainya kejuaraan ini.
Namun, secara mengejutkan tiba-tiba Nadal bangkit dan mampu membalikkan kenyataan dengan merebut tiga set berturutan.
Dalam pertandingan ini, saya kembali diingatkan akan suatu kalimat motivasi: ‘it’s not over ‘till it’s over’.
Mental seorang juara sejati tidak akan mudah patah dan gampang menyerah walaupun sudah berada di ujung jurang kegagalan.

