Politik dan Pemerintahan

Siapa Yang Pantas Jadi Menteri Ekonomi Indonesia?

oleh: Dr Jerry Massie MA Ph.D Dosen Ekonomi STIE Budi Utomo

Menteri ekonomi merupakan salah satu pos yang vital di dalam setiap kabinet. Dalam sejarah Indonesia tercatat punya banyak ahli-ahli di bidang ekonomi baik itu dari era Presiden Soekarno sampai Presiden SBY.

Para ahli ekonomi Indonesia yang pernah ada seperti; Prof Saleh Afif, JB Sumarlin, Prof Sri Mulyani, Prof Boediono Drs.Radius Prawiro Mr. A.A.Maramis (1946-48) Mr. Syafruddin Prawiranegara (1951) Dr. Samsi (1945) Menteri keuangan pertama Drs. Frans Seda Drs. Marie Muhammad, Drs. Jusuf Anwar MA, Muhammad Hatta dan masih banyak lagi.

Saat ini kita kenal pakar ekonomi yang layak menempati menteri ekonomi misalkan; Dr Rizal Ramli penasehat PBB, mantan Menteri Keuangan dan Koordinator Bidang Ekonomi di Zaman Presiden Gus Dur berkuasa. Figur yang cukup tersohor dengan julukan “Sang Penerobos” ini adalah jebolan ITB dan Boston University yang memiliki visi mentereng.

Dirinya pantas diperhitungkan masuk kabinet Jokowi-JK. Adapula nama figur muda penasehat ekonomi Presiden SBY, Prof Firmanzah. Pria asal Surabaya ini merupakan Dekan dan profesor termuda di Indonesia.

Alumni UI dan Peraih gelar doktor dari University of Pau et Pays de l’Adour , Prancis tersebut terbilang cukup cerdas. Bahkan dia sering diundang sebagai keynote speech di luar negeri.

Selain itu, ada beberapa ekonom terkenal Indonesia yang layak untuk di akomodir sebut saja, Muhammad Chatib Basri alumni Australia University.

Pria kelahiran Minangkabau, Sumatera Barat tersebut adalah Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan Menteri Keuangan pada 2013 lalu. Selain itu, ada nama lain yang tak asing lagi seperti, Chairul Tanjung, Gita Wiryawan dan Agus Maryowardoyo.

Khusus Menteri Ekonomi Indonesia seyogianya Jokowi jangan memilih seorang pure politisi, pimpinan maupun anggota partai. Sebaiknya menurut saya antara profesional atau akademisi. Agar di bisa fokus dan tak terganggu dengan tugas partai.

First thing first (Hal-hal yang utama) dia mampu memahami sisi makro dan mikro, ekonomi internasional, ekonomi kreatif, berpikir progress, memahami birokrasi dan politik, good cooperation and relationship, bagaimana dia mampu membaca market condition and challenge, market share juga market brand.

Selanjutnya, menteri ekonomi bisa membawa perubahan dengan point of view yang brilian terkait reformasi birokrasi, harus mampu membawa Indonesia pada high quality product, khususnya komoditas unggulan kita menuju international competation, apalagi kita akan take off menuju Pasar Asean.

Bahkan bagaimana dia memiliki new breaktrough (terobosan baru) dengan membuat tingkat purchasing power and power selling baik di pasaran. Belum lagi Gross National Product (GNP), Gross Domestic Bruto (GDB), harus mampu bersaing dengan bangsa asing.

Selain itu, He has the big master plan to build of indonesian economic, memperkuat finance sector, serta human resource (sumber daya manusia) perlu ditingkatkan karena akan datang investor asing dan harus mampu bersaing secara global. Bagaimanapun juga, saya perhatikan ada perbedaan pemilihan menteri antara Presiden SBY dan Jokowi.

Jika SBY lebih ke transaksional atau political interest dari parpol pengusung. Namun disisi lain, Jokowi dia lebih terbuka dalam pemilihan menterinya. Contohnya, dia menerima masukan dari masyarakat dan juga dia tidak party oriented. Sudah barang tentu Jokowi tahu siapa menteri ekonomi yang akan dipilihnya. (*)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara