Menurut Toar, kondisi Sulut saat ini lebih mengkhawatirkan ketimbang awal pandemi.
Teman, tetangga, bahkan keluarga sudah dihinggapi korona.
“Kalau dulu yang kena kita tidak kenal. Tapi sekarang orang-orang terdekat ikut terpapar,” bebernya.
Fakta berbicara.
Zona merah penyebaran Covid-19 di Sulut semakin meluas.
Jika sebelumnya, hanya lima daerah dengan risiko tinggi, kini bertambah tiga sehingga menjadi delapan.
Peta Risiko per 20 Desember merilis Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Bolaang Mongondow Timur (Boltim) serta Bitung menyusul dengan status tersebut.
Sementara Kota Tomohon, Manado, Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara dan Minahasa Tenggara tetap bertahan dengan zona merah.
Sisa kabupaten/kota lainnya, semuanya berisiko sedang dan tak ada lagi zona kuning dan hijau.
Natal Tanpa Open House
Terkini, Pemprov Sulut memerintahkan agar perayaan Natal dilegar tanpa open house.
Semua rangkaian ibadah juga dilakukan dalam jaringan (daring).
Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Sulut, Pdt Lucky Rumopa, sepakat dengan kebijakan itu.
Namun menurut Ketua Jemaat GMIM Baitel Batusaiki Molas ini, memperketat ibadah Natal mesti seiring dengan penutupan pusat hiburan.
Sebab kata dia, beberapa tempat karaoke, pub, cafe bahkan restauran operasionalnya tidak memenuhi standar protokol kesehatan.
“Jangan membuat gereja dilarang ibadah, tapi lokasi kerumunan seperti toko dan pasar dibiarkan. Harus diawasi juga,” tegasnya.
Ia menambahkan, sangat tidak efektif jika ibadah Natal dan Tahun Baru diperketat sementara tempat hiburan bebas dibuka.
Tren Memburuk

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito menitik beratkan pada kasus aktif.
Menurut dia, ini yang patut menjadi perhatian pemerintah daerah.
