
Ratahan – Pemprov Sulut dalam hal ini Gubernur DR Sinyo Sarundajang, 13 Juni ini akan segera mengambil keputusan soal batas wilayah antara kabupaten Mitra dan Boltim. Dimana dalam pertemuan beberapa pekan lalu, gubernur terpaksa meberikan kesempatan untuk Mitra dan Boltim menyiapkan tiga opsi batas toleransi. Langkah ini sendiri diambil pihak Pemprov Sulut dikarenakan tidak ditemukan adanya kesepakantan antara dua daerah yang berseteru soal batas wilayah tersebut.
Setelah dalam estimasi waktu selama dua minggu yang di berikan pemerintah propinsi terkait penyelesaian tapal batas antara Kabupaten Mitra dan Boltim ini, maka saat-saat menegangkan akan diketahui bersama beberapa hari kedepan dimana putusan final akan segera ditentukan. Untuk Kabupaten Mitra sendiri, ini merupakan pertaruhan harga dalam menanti keputusan Pemprov. Dimana Mitra dalam posisi ini adalah pihak yang berjuang mempertahankan batas alam yang sudah sejak dulu diketahui sejak masih Minahasa Raya yaitu batas alam sungai Buyat.
Terkait hal ini kalangan masyarakat meminta Bupati Mitra Telly Tjanggulung selaku orang nomor satu di Mitra diharapkan mampu untuk “all out” dalam memperjuangkan aspirasi dan hak masyarakat Mitra. Tjanggulung sendiri diminta untuk melibatkan semua pihak yang berkompeten dengan sejumlah bukti otentik yang dimiliki. “Harus diakui untuk saat ini Mitra dalam posisi yang diuntungkan. Selanjutnya tinggal bagaimana kita menkonversikan peluang ini, sehingga dapat mempertahankan sejengkal tanah yang notabene milik kita (Mitra, red),” ujar aktivis generasi muda Mitra Ronald Sahelangi.
Lanjut dikatakannya, keputusan final nantinya bakal menjadi pertaruhan harga diri masyarakat Mitra sekaligus pertaruhankapabilitas seorang Telly Tjanggulung. “Yang pasti harapan masyarakat saat ini adalah Mitra tidak akan kehilangan sejengkal tanah, oleh karena klaim dari pihak-pihak yang hanya asal ngomong,” tegas Sahelangi.
Senada dikatakan Sekretaris DPD KNPI Mitra Robby Lumbu, dimana ia (Lumbu, red) mengklaim bahwa Pemkab Boltim tidak mau mengakui batas alam sungai Buyat karena menginginkan lokasi wisata pantai lakban dan juga kandungan emas yang ada di daerah perbatasan Mitra. “Harus diakui, Pantai Lakban dan kandungan emas di sekitar daerah perbatasan milik Mitra menjadi sasaran mereka (Boltim, red) yang sedang berjuang untuk menjadi Provinsi baru di Indonesia yakni Provinsi Totabuan.(dul)
