
Yunus Patriawan Noya.
Oleh:
Yunus Patriawan Noya
BULAN Oktober 2009, adalah fase yang mempunyai tempat tersendiri dalam lintasan sejarah pengelolaan program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) khususnya program untuk remaja.
Dengan mengambil momentum hari sumpah pemuda, bulan Oktober 2009, Kepala BKKBN masa itu Dr dr Sugiri Syarief MPA (alm), meluncurkan tagline baru program untuk remaja dengan frasa “GenRe ” akronim dari Generasi Berencana.
Melalui televisi nasional maupun lokal dan selanjutnya di ikuti dengan pemasangan media luar ruang yang diawali di jalan Gatot Subroto Jakarta, dengan isi pesan “Saatnya Yang Muda Yang Berencana”, secara perlahan namun pasti, kampanye GenRe mulai mendapat tempat di hati kalangan remaja maupun kalangan pengamat/pegiat remaja, pendidik, orangtua bahkan masyarakat umum.
Bak bola salju, tagline GenRe terus bergulir dan makin berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Berbagai kegiatan ditampilkan yang dirancang sedemikian rupa, dari yang berskala lokal hingga nasional. Dari yang sifatnya sederhana murah meriah hingga bentuk lomba yang “wah”, ditampilkan di arena program KKBPK.
UJICOBA MEDIA
Menelisik lahirnya tagline GenRe, diawali dengan diskusi sekaligus pengarahan Kepala BKKBN, Dr dr Sugiri Syarief MPA (Alm) dengan penulis sebagai Humas BKKBN pada awal tahun 2009 tentang pentingnya pengembangan dan penajaman isi pesan KIE untuk remaja.
Diskusi tersebut berangkat dari data hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia satu dasawarsa terakhir yakni 1997 sampai dengan 2007. Nampak jelas bahwa trend median usia kawin pertama wanita di Indonesia terus meningkat. Tahun 1997 adalah 18,6 tahun, meningkat menjadi 19,2 di tahun 2002/2003, kemudian meningkat lagi menjadi 19,8 tahun pada SDKI 2007. Deretan angka-angka tersebut, meski cukup menggembirakan, namun perlu langkah strategis dengan formula yang tepat untuk menggalakkan kampanye penundaan usia kawin pertama dikalangan remaja, mengingat bahwa antara tabun 2020-2035 Indonesia akan menikmati bonus demografi, suatu kondisi dimana angka ketergantungan berada pada level terendah, dan setiap negara hanya sekali menikmati bonus demografi.
Pada kesempatan terakhir diskusi tersebut alm Dr dr Sugiri Syarief MPA, meminta kepada penulis untuk mempelajari model difusi innovasi yang dikembangkan oleh Everest Rogers, yang banyak digunakan sebagai pendekatan dalam komunikasi pembangunan terutama di negara negara berkembang. Difusi yang didefinisikan sebagai proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu di antara para anggota suatu sistem sosial.
Berbekal hasil diskusi itu, penulis mulai menyusun dan mengembangkan konsep isi pesan KIE untuk remaja. KIE remaja untuk pendewasaan usia kawin, secara konseptual berada dalam ranah Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR).
Menjawab tantangan Kepala BKKBN untuk melakukan inovasi penajaman dan pengembangan isi pesan KIE remaja, mulai penulis kembangkan dengan berpedoman pada konsep proses.
Setelah melalui tahap analisis bersama semua Kasubdit lingkup Direktorat Advokasi dan KIE masa itu, yakni Freddy Aritonang, Andy Ismoyo dan Utoko, konsep KIE PKBR dikonsultasi kepada Direktur Remaja BKKBN masa itu, alm Drs Masri Muadz MSc, dan selanjutnya memasuki tahap uji coba atau media pretesting.
Ujicoba media dilakukan di berbagai segmen remaja, baik melalui jalur sekolah maupun jalur organisasi seperti pramuka, remaja masjid dan perorangan. Dengan menggunakan pendekatan Fokus Group Diskusi, isi pesan KIE remaja untuk pendewasaan usia kawin dengan memasarkan konsep PKBR, mendapat banyak tanggapan.
Bentuk tanggapan para remaja cukup bervariasi, namun yang paling berkesan adalah permintaan siswa dari Perguruan Cikini (Percik) agar BKKBN mencari tagline yang tepat dan bernuansa remaja, yang dalam logat anak Jakarta. “Cari dong tagline yang gue buanget” kita ini lagi menikmati masa remaja, kita kan belom mo kawin.. ungkap mereka menanggapi tagline PKBR yang kami kembangkan.
GENRE TRENDSETTER BARU
