Politik dan Pemerintahan

Pulukadang: Dinasti Politik Masih Menjamur di Sulut

MANADO – Dinamika politik terus menjadi pembicaraan hangat di seluruh lapisan masyarakat yang ada di republik ini. Pasca reformasi pembicaraan politik mendominasi setiap diskusi-diskusi yang ada. Hal ini diutarakan oleh Prof. Ishak Pulukadang seusai diskusi kerakyatan di Kawangkoan.

“Pasca reformasi kita tidak Bisa menafikan bahwa banyak diskusi-diskusi di berbagai tempat lebih banyak didominasi tentang persoalan politik,” papar Ishak Pulukadang.

Menurut Pulukadang seharusnya ketika resim orde baru runtuh dan Indonesia memasuki fase reformasi, adanya perubahan dalam kontek kepemimpinan politik. “Kalau saman orde baru lebih didominasi dengan kekuasaan politik yang termanifestasikan dalam dinasti politik seharusnya saman reformasi tidak ada seperti itu,” kata Pulukadang kepada beritamanado.

“Namun parahnya saat ini masih saja ada dinasti politik yang menjamur di tingkat daerah. Hal ini nampak dengan jelas di Sulawesi Utara (Sulut),” beber Pulukadang yang engan menyebutkan beberapa daerah yang nampak mewarisi dinasti politik. “Masyarakat khan lebih mengetahuinya,” kelakar Pulukadang yang juga mantan anggota DPRD Sulut 16 Tahun ini.(gn)

6 tanggapan untuk “Pulukadang: Dinasti Politik Masih Menjamur di Sulut”

  1. Nepo model SULUT ini aladah hal memalukan yang kita harus hindari,
    Kalau di lihat akhir2 ini memang so terlalu banyak yang mempraktekan nepo dan yang di sayangkan ini di lead sama pejabat2 teras SULUT.

    Banyak skali yang mengelak dengan alasan “Oh…kalau ananknya mampu…? dll”
    Coba kita merambah dan memperhatikan di Indonesia saja Sulut yang paling nepo dan kalau kita perhatikan di LN nepo kronis macam Sulut ini cuma terjadi di Afrika pedalaman. Mamang ada juga nepo pejabat tapi di lingkungan yang tinggi skali selevel presiden, ketua partai komunis contohnya di Korut.

    Ada juga nepo2 model India tapi disana beda skali neponya. penguasa2 daerah disana rata dari partai yang memang milik keluarga. Anak2 mereka memang sudah dididik dan jadi pemimpin dan berpraktek langsung sejak dini dan ditunjang dengan pendidikan formal yang OK juga.

    Sulut? Adoh…

    Seriously,
    Saya akan mencoba mengontak TV yang pasti akan tertarik dengan fenomena NEPO ini terutama TV station macam Aljazeera dengan programnya “101 EAST” atau “Peoples & Power”

    Say NO to NEPO!

  2. Sejak reformasi di Indonesia, termasuk di SULUT, lantaran yang orang bilang demokrasi. so banyak itu “raja-raja” di masyarakat. Justru di masa SHS sebagai “raja besar” banyak menggurita itu raja-raja di SULUT deng dorang justru orang-orang yang KORUPSI dana negara/masyarakat, KOLUSI deng berpraktek NEPOTISME yang penting dorang pe keluarga/anak mendinasti.
    Dulu di masa Suharto sampe Megawati justru sadiki yang seperti ini. Skarang pe banyak skali eh dorang, di mana-mana ada.

  3. Tidaaaaaaaakkk…

    Tidaaakkk tante
    Kalau tanam pohon mangga di tubir/jurang jatuhnya jauh doe,
    Kalau tanam pohon mangga di daerah ketinggian hasilnya asam doe,

    Ganti jo tu nama jangan tante lobe tapi tante lebay alay…
    Atau tante mangga jo..

    SAY NO! to NEPO

  4. Kalo memang penerusnya bisa meneruskan pembangunan suatu daerah lebih bagus kenapa tidak??? Ini negara demokrasi semua tergantung pada pilihan rakyat. Seorang pemimpin yg berhasil membangun daerah yg dipimpinnya pasti anak sebagai penerusnya juga akan berlaku sama karena kata pepatah… Buah mangga tidak jauh jatuh dari pohonnya…. Pohon mangga yg manis pasti menghasilkan buah mangga yg manis juga.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara