
“Komentar saya ini, dilindungi UU”
Manado – Mantan Rektor Universitas Sam Ratulangi Manado, Prof Dr Ir Lucky Sondakh MSc kembali mengeluarkan sorotan.
Sorotan Sondakh terkait pemberian nilai Cum Laude. Karena ada uang, punya kedekatan, atau bila orang tersebut adalah pejabat maka akan mendapat nilai baik atau Cum Laude.
“Apakah karena mahasiswa itu pejabat dan banyak duit lalu otomatis Cum Laude? Saya kira, tentu tidak! Dan semoga saja kesan saya salah,” kata Sondakh.
Sondakh yang masih tercatat sebagai guru besar di Unsrat kepada beritamanado mengatakan bila komentarnya kali ini dilindungi UU.
“Komentar saya ini, dilindungi UU dimana Guru Besar memiliki kebebasan akademik (academic freedom),” tutupnya.
Sebelumnya, 18 Agustus lalu, Program Study Hukum Pascasarjana Unsrat melepas wisudawan dengan beberapa diantaranya memperoleh predikat Cum Laude. (gn)

om kaseh seminar jo buat angie spya dia kembali pa TUHAN YESUS…………..ok peace
mari torang doakan supaya UNSRAT tetap eksis, Rektor, purek2, dekan2, dosen2 boleh menjadi pendidik2 yang profesional, bersih, jujur, bebas KKN, dan mampu menciptakan mahasiswa2 yang bermoral, berpendidikan dan berkualitas baik. doakan itu staf2 admin di UNSRAT. doakan itu mahasiswas2 yang mampu deng yang tak mampu supaya samua dilayani tanpa pandang background & status, dorang boleh belajar deng baik, nyandak ada tawuran antar fakultas, deng masih banyak kei.
Peduli@ Memang betul saya belum selesai S2 saya (mudah-mudahan jika Tuhan berkenan November sudah selesai) karena saya tidak mau membeli Tesis (dibuat oleh orang lain). Masa depan manusia ada ditangan Tuhan bukan ditangan “Peduli” apalagi pengecut (tanpa identitas). Saya kritik Prof Lucky, tetapi tidak menghina, dan saya memperlihatkan identitas saya. Prof Lucky itu om saya tetapi berbeda pendapat bukan berarti mau berkelahi kan. wah saya tau pasti anda ini orang yang sakit hati karena tidak punya kedudukan. Kalau saya oportunis tidak mungkin saya menjual diri saya didepan Rektor Unsrat waktu itu (Prof Lucky) dan saya katakan bahwa saya tidak mendukungnya waktu pencalonannya. Tetapi saya Gentel mengatakan bahwa saya memang tidak mendukungnya. Tetapi kemudian saya katakan bahwa saya loyal, dan selama kepemimpinan Prof Lucky saya tidak pernah menjelekkan Unsrat atau Rektor. ini stou yang beking torang berbeda.”Peduli” hehehehe…..Terima kasih untuk semua yang mau melihat persoalan Unsrat secara proporsional. @ Prof Lucky : tq GBU all
ini totara datang2 lei sampe. untung masih pake istilah stou. mar setidaknya dr. recky dengan om sondakh ada kase tunjung identitas, apalagi untuk dr. recky, patut di apresiasi. daripada torang2 cuma asbun sana-sini, apalagi pake istilah PEDULI. pantas so utk menghakimi orang??? bakaca dong……
Prof Sondakh, tipikal seperti dr. Recky tidak bisa menjadi penerus bagi unsrat ini….hahahahhahaha,,,, semua mahasiswa diluar yang kesehatan so tau dia pekalakuan………. ouportunis banget..
untuk dr. recky jangan samakan samua mahasiswa unsrat dengan mahasiswa yang anda kuliahi setiap hari dikelas yang notabena akan io..io kalau dr bilang………..
Cumlaude samua memang berarti Pascasarjana Hukum Unsrat perlu dipertanyakan. Kage, bayar2 stou kang
setuju dengan Om Sondakh… kapan torang ini boleh lepas dari budaya paternalistik???? apa tindakan nyata membabat habis akar2 budaya paternalistik yang menghancurkan kebebasan dan kemerdekaan di segala aspek hidup?????
Trimakasih komentar balik Ricky…cukup reasonable dan dapat dimaklumi…..tinggal satu saja lagui yang Ricky perlu maklumi …sikap dan pendirian saya….juga waktu masih rektor yang memberi kebebasan sebesar2 nya bagi Mahasiswa dan kaum akademisi untuk menyatakan pendapat bahkan mengkritisisi, bahkan mendemo saya tanpa ada yang saya schors atau pecat. Mungkin karena saya berlatar belakang pendidikan akademisi dinegara demokratis: Australia dan Jerman yang maju karena memberi keluluasaan bagi semua untuk berargumentasi ..dan mempunyai penghormatan yang tinggi atas pendapat orang lain……saya pikir gagasan gagasan yang briliant tidak akan opernah dihasilkan dalam sistim yang paternalistik apalagi otoriter..kan juga sebagai Orang Kristen dalam kitab Galati Kristis mengajarkan dan memberikan Kemerdekaan yang Bertangung Jawab…..karena itu pamndangan kristis saya ke issue di Unsrat yang menurut saya “tidak masuk akal” ada 100 % “cum laude” dan cara itu berpotensi ‘mendegradasi martabat Unsrat” juga saya sampaikan dengan ketulusan untuk melakukan koreksi demi kemajuan Unsrat…dan kalau saya disalahkan Para pemegang Otoritas Birokrasi di Unsrat…saya juga sudah siap…tapi saya kitra….semua torang aklhirnya akan dapat duduk bersama dengan damai karena “the power of reason”….Majulah Unsrat…Majulah kalian Ricky generasi penerus…..Syalom. GBU.
Tuhan pasti memberkati kita semua…
dan sekiranya kita semua tetap mawas diri….
KEBENARAN BISA DITUTUPI DAN DIBUNGKAM TAPI TIDAK BISA DIMATIKAN.
mantap pak Ricky. Tuhan memberkati pa torang samua.
Terima kasih Pak Ricky atas komentarnya dan pengabdiannya di UNSRAT.
Untuk Recky Sondakh saya cukup tau trackrecord anda sebagai akademisi. Tapi alangkah lebih baik anda menyelesaikan S2 anda dulu. Sebab persyaratan dosen saat ini S2 hehehehheeheheh… Kasihan kau bersembunyi dibalik bayang-bayang semu penguasa. Ibaratnya seorang yang selalu mau ditampilkan untuk kepentingan semata. Contoh saja ketika pesta demokrasi mahasiswa KAU orang yang selalu mau mengintervensi. Di tingakatan Fakultas maupun di tingkatan Unsrat..
Sya mhon maaf dr. Recky sebelumnya…
Satu kata untu anda saya kasihan melihat sikap ouportunis dan pragmatisme anda.
Prof Lucky, saya menghormati Prof sebagai seorang Intelektual Sulut yang hebat, tetapi saya tidak sepaham dengan sepak terjang Prof setelah sudah tidak menjabat Rektor di Unsrat lagi. Memang torang sebagai seorang akademisi harus mampu menciptakan rasa keadilan dan kebenaran di tengah masyarakat tetapi menurut hemat saya kebenaran yang kita cari tidak murni dari ketulusan hati kita tetapi karena kita menginginkan sesuatu maka kita mulai mencari realitas kebenaran ditengah jawaban-jawaban yang benar dari pikiran kita. Saya adalah orang yang dididik dari berbagai latar belakang tetapi saya tidak pernah berpikir saya mengkritik untuk saya mendapatkan posisi apapun. Ketika Prof Lucky terpilih menjadi Rektor, dalam suatu pertemuan saya menyampaikan bahwa saya tidak mendukung Prof sebagai calon Rektor waktu yang lalu. tetapi ketika telah menjadi Rektor saya sebagai dosen menyatakan loyalitas tetapi kemudian Prof tidak menganggap saya ada di Unsrat lagi. Demikianpun saat ini saya mendukung kepemimpinan Rektor Prof. Donald Rumukoy karena dia adalah pimpinan saya. Jujur saja Prof Lucky, kejahatan Akademik di Unsrat bukan baru terjadi saat ini tetapi sudah lama dari rektor-rektor sebelumnya tetapi kenapa sekarang Prof sebagai mantan Rektor mulai sumbang terhadap kemajuan Unsrat saat ini? Saya sebagai seorang dokter diajarkan oleh pendiri di FK bahwa mencari dokter yang pinter itu banyak, tetapi mencari dokter yang baik itu susah. ini adalah suatu filosofi menyangkut sikap mental karena kebaikan seseorang tidak dapat dinilai dari Intelektualnya tetapi dari mental attitude nya. Kalau ada orang yang memperjualkan Cum Laude dan skripsi, tesis dll maka berarti sikap mental dari yang menawarkan dan yang membeli itulah yang harus kita berantas tetapi bukan merusak tatanan yang sudah dibuat begitu baik di Unsrat ini. Masakan kita hanya melihat kekurangan kecil tetapi menutup mata pada kemajuan yang besar? Torang malu Prof, budaya baku cungkel orang manado so kelewatan, makanya orang manado susah berkiprah di pentas Nasiona secara langsung nanti sudah lama ada di Jakarta dulu baru orang manado boleh dapat kedudukan. Mohon maaf Prof Lucky tidak bermaksud menggurui tetapi itulah juga unek-unek saya. Semoga biar cuma kecil ada manfaatnya.Terima Kasih.
Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui. – Anonim
Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka. – Alexander Graham Bell
kita lei ada kirim permintaan maaf disini, rupanya nda ta sampe. qta tulis ulg jo dang. qta minta maaf kalo ada yang menyinggung. di rolling so dapa bilang baku cungkel, kng so baku ambe, nintau abis itu apa lei. padahal torang samua basudara.. mohon maaf lahir dan batin
Maafkan aku enceng karena telah membuat anda panas hati…….
Mudah2an Unsrat ke depan akan lebih baik…..
jelas prof tau,prof kan prnh jd rektor!!!!!!!!!!!
baru ngana p ‘nama’ dsini so mencerminkan kalo memang ngana itu nda berbobot. masa kwa anti kkn pe musuh, berarti ngana kkn p tamang dang?? kase nama kkn p musuh, bukang anti kkn pe musuh. hahahahaha……
so dapa lia tuh org2 asbun sama dgn ngana, ba pikir dulu sebelum bicara/batulis.
qta nda pernah kuliah di pasca unsrat, bagemana lei mo jadi bagian dari dorang. so itu jangan asbun, kalo diskusi disini.
so ngana itu yang patut di kasihani. hahahahaha……..
Wah…..walaupun saya nilai komentar Ricky agak out of context dan partisan..tapi biar jo…bagus juga bewacana dan beragumentasi toch…demi kepentingan publik.
…Saya memang anggota senat saya tau itu. Tapi ada tanggung jawab yang lebih luas dan dalam dari hanya sekedar anggota senat, yaitu sebagai Gurubesar/ Akademisi, Intelektrual, yang perlu menyuarakan pandangan akademi profesionalnya untuk kepentingan publik. Pandangan yang bersumber pada kejakinan kebenaran ilmiah “academic freedom”, kebebasan mengeluarkan pendapat yang dilindungi undang2…..Saya menghormati kritikan anda, dan termasuk sejumlah oknum pejabat Unsrat yang mungkin tersinggung, tapi kami sebagai kaum intelektual apalagi Gurubesar harus lebih mencintai publik secara keseluruhan. I love you and Unsrat but I must love more the truth and the public.
Kami juga sangat paham harus menghormati pandangan orang lain, menghormati beda pendapat….tapi saya kira substansi dan inti dari seluruh pengelolaan Perguruan Tinggi adalah “academic excellency”, “integritas intelectual”….saya hanya menyampaikan pandangan saya (setuju atau tidak setuju adalah hak anda dan no problem bagi saya), sebagai seorang Akademisi tentang pentingnya memang mencari dan memperdalam ilmu pengetahuan, perlu meraih S1, S2 dan S3…akan tetapi harus dipahami bahwa Etika Intelektual mengajarkan bahwa mencari ilmu itu adalah untuk mencari ‘kebenaran” dan “mematahklan rantai ketidak adilan” (Socrates, Plato, Aristoteles dll) yang menjiwai Tokoh Intelektual Sulut (Dr Sam Ratulangi, Arnold Mononutu. dll) dan karena kebenaran itu kaum ilmuwan mendapat kepercayaan publik, dalam sistim yang demokratuis, untuk memegang jabatan dan posisi. …Jadi…apakah menurut anda kelulusan “Cum Laude” 100 persen itu “benar dan adil”….anda mengkritik saya saya hormati…tapi saya berharap kritikan anda tidak didominasi oleh “kepentingan” dan “partisan” atau membawa suara “his master’s voice’ (yang sarat kepentingan )….ayo…saya tantang anda untuk berargumentasi bahwa pandangan kritis saya tentang kelulusan (hampir) 100 % “cum laude” itu “salah” ?….kalau 5 – 10 % “cumlaude” itu masih masuk akal…tapi kalau (hampir 100%) perlu dipertanyakan….saya kritik ini karena menurut saya ini justru “mendegradasi Unsrat) dibanding dengan PTN lainnya di Indonesia.
Yang terachir, seorang Anggota senat Gurubesar di Universitas Indonesia baru baru ini menyapikan kritikan secara terbuka ke publik tentang Pemberian gelar Doktor Honoris Cause kepada seorang Pejabat pemerintahan dari Arab Saudi . Pertanyaan sayqa Ricky..apakah professor itu mempermalukan UI….yang bagi kaum partisan akan dibilang “yes” tapi professor itu sudah melakukan tugas “academic freedom n responsibility” untuk kepentingan yang lebih besar dan lebih luas, yaitu kepentingan publik…UI dan Unsrat dibiayai negara untuk melakukan pelayanan publik, melakukan \tugas “pencerahan”….itu yang Oom Lucky lakukan…sekarang walaupun mendapat kritik dari anda dan sejumlah orang….semua kritkan anda itu saya hor,mati…tapui…”the show must go on”….”the acadmic stragle for public enlightment via based on acadmic responsibility and integrity must go on”…..Syalom. Viva Unsrat.
Oh…catatan terachir…I am not attacking persons, or institutuion (Unsrat)…I am attacking “a fundamental issue” of academic integrity”…that is all….and I know ..I am not perfect..so are you toch?…..jadi mari jo baku baku kaseh inga toch? makaseh so kaseh inga pa kita…
tapi argumentasi harus secara ilmiah…jangan emosional…saya tentu saja bisa saja “salah” tapi saya yakin pandangan krtisi saya, semata mata bukan untuk kepentingan saya lagi (Oom Lucky ini mo cari apa lagi so….somo pension lei…dan mungkin bisa dipensionkan dini karena berpandangan kritis…no problem bagi saya…que zera zera…)…pandangan kritis saya untuk kepentingan semua bukan hanya publik dan generasi mendatang tapi untuk Unsrat juga kan?….
Enceng Gondok bilang langsung cek ke pasca unsrat…..akui jo kwa ngna bagian dari dorang….hahahaha…boro2 cuma le kasus ini kong mo cek langsung di Pasca…khan minggu ini ada libur……hahahahaha…..enceng-enceng….kasian de loe…
Prof Lucky Soterlambat…kenapa waktu rektor dulu nda berantas itu. Mengapa melihat selumbar dimata saudaramau sedang balok didalam matamu tidak kau lihat…wah….ini republik kalu bagini terus…kasihan….
Pak Stanley, setuju dengan usulan itu, mudah2an ada yang berwenang dan berwajib yang membaca komentar2 soal ini.
Acung jempol buat Om Sondakh, Pak Stanley, deng para pengajar2 yang bersih dan mendidik anak2 SULUT menuju kemerdekaan pendidikan, berkarir dan berwirausaha.
setiap kritik yang diberikan oleh om sondakh pasti diterima, bahkan qta dgr standardisasi utk ujian akhir sudah ditingkatkan supaya ‘nda gampang’ kata mo dapa cumlaude. demi kemajuan pasti nda masalah, asal jangan cuma asbun tanpa ada bukti. kalo memang betul, lebe bagus ditelusuri lebih dalam.
dapa sayang tuh mahasiswa yang cumlaude, so susah payah ada belajar ehh dapa blg macam2.
sebagai salah seorang pendidik dalam lingkungan Unsrat; maka saya sangat mendukung untuk dilakukan penelusuran lebih mendalam, tentang “oknum” siapa yang memberi maupun menerima gelar cum laude.
tentu saja, sebagao seorang Guru Besar, pak Prof Sondakh harus bersedia untuk membeberkan informasi yang dimilikinya …
eceng gondok tetap noh musti diberantas, cuma bekeng soe itu Danau Tondano.
Om Sondakh, tetap katu kritis, Om. Kalo ada unek2, cara paling mudah deng murah yah lewat media di internet noh. Tetap berkarya untuk menghasilkan muda-mudi SULUT yang bermoral, berdedikasi, berintegritas dan berhati melayani masyarakat umum yang kekurangan.
peduli, ah lucu juga kalu ngana somo libatkan penegak hukum…. ini masalah akademik kasiang…. mana ada penegak hukum yg ndak mangarti masalah akademik kong mo libatkan dengan persoalan “kecurigaan kelulusan cum laude”, dorang mo pake aturan dari mana mo selidik?
ini masalah moral bung…. cuma bisa diselesaikan lewat rapat senat universitas… kalo perlu lei rapat senat luarbiasa….. itu kalu oom lucky betul2 prihatin……
eceng dorang itu tahu baca mar dorang nda mangarti ngana p maksud tuh angkatan. so itu dorang nda dapa cumlaude waktu kuliah. hhahahhaha
sapa kwa yg bilang salah. qta da bilang salah so?? memang betul drg dapa cumlaude, mar samua drg p angkatan dapa cumlaude so?? ngana cuma baca di koran, qta cek langsung ke pascaunsrat. dari drg p angkatan itu yang hampir 100 orang cma sekitar 11 org sto yg cumlaude. memang katu drg yang pande2 kapa ngana mo protes. hari senin ngana ke pasca kong tanya bae2. ba tambah mar salah2 lei. kalo qta malo noh. hahahahaha……
for enceng gondok…ngana ja ikuti berita mar salah2 eh….yang dimaksud prof. Sondakh adalah cumlaude bagi program pasca sarjana Hukum adalah betul…baca dp berita di http://www.manadopos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=101777 sebelum ngana ba komen macam2….ato mungkin ngana so tau mar pura2 nintau ati mo kacaukan pembaca lain pe pikiran lantaran ngana bagian dari dorang….
qta nda babayar mar boleh dapa cumlaude, nda ba goso lei. berenti lei mo bayar dgn bagoso tanya tuh laen. yang penting rajin terus dengar pa dosen.
pada dasarnya kalo mmg biongo yahh biongo. masa biongo mo dapa cumlaude. se tau qta prof sondakh mmg so nda tapake di dua pihak senat. so itu tggl jago basuara dsini. kalo nda ada musyawarah mufakat tantu voting noh. demokrasi dong. ada org model bgni. hhaha
@aceng, sepakat..
sebenarnya pihak penegak hukum harus lebih care dengan msalah-masalah akademik seperti ini. karena dari sinilah terbentuk pemimpin2 yang berintegritas. nah mo berintegritas bagimana kalau di institusi akademi so ja bagini…..
@nyandacumlaude, kasiang spaya angko tau tu profesor-profesor alias guru besar di unsrat sebagaian itu telah dipangkas hak akademiknya sebagai anggota senat. alias dikebiri. bagimana prof mo basuara kalau pengambilan keputusan di institusi akademik sallalu voting. tidak ada rasionalisasi yang objektif. alias pengambilan keputusan yang terkesan dipaksakan.
Biongo yang penting ngana ada 50jt, itu cum laude pasti dapa.
ngana p manalu cma krna depe nama. pake acara for danau tondano lei.
trus kapa mo polri lei, polda jo kwa pake bawa polri lei. haha
mo babilang lei, cuma taputar2 situ. semua ada depe standard bgm mo dapa cumlaude. yang pasti samua nda cumlaude noh, sama dgn ngni p penilaian.
lebe bae iko jo tuh ‘nyndak cumlaude’ ada bilang, biar pembaca yang menilai samua. om sondakh, so jadi beritamanado.com p corong lei. hahaha……
..ADOH KALO BAGITU DENG KITA LEI TERSINGGUNG INI…
…..MASA CUMA DORANG BOLEH MO DAPA NILAI CUM LAUDE..!!
Sorry Prof, maar dapa lia anda tidak professional. Anda kan bagian dari senat Unsrat. Kalo anda benar2 prihatin maka anda bisa membawa keprihatinan anda pada pertemuan senat, bukan cuma cuap2 di media massa. Komentar anda dilindungi oleh UU, tapi pembaca juga bisa menilai siapa anda sebenarnya.
eceng gondok, ngana musti diberantas nyandak bagus buat Danau Tondano yang torang cintai & harus dilestarikan.
Kalo ada laporan dari masyarakat soal kejahatan intelektual ato akademik, kita pikir POLRI musti turun tangan, selidiki. Ini supaya torang pe dunia pendidikan di SULUT maju terus dengan bersih dan tanpa KKN.
Om Sondakh, teruskah kritik pembangunannya!!! Torang dukung!!!
Standart mutu harus di pertanyakan untuk unsrat saat ini,_
Dimna keabsahan standar yang pas..di unsrat tidak mengunakan standar yang objektif.
@eceng gondok_ jangan menafikan kwa hal2 sma dengan ini. Kalau ngana pernah S2 pasti nga tau.. Kasihan mahasiswa pasca dibeberapa prodi bisa dipertanyakan standar kelulusannya..
sapa kwa yg larang om sondakh ba comment. pake bawa2 UU segala lei. sblm ba comment cari tau depe info dulu yg betul bgm, jgn asal ma lontok. mmg salah om sondakh p kesan. itu angkatan ada amper 100 org mahasiswa trus cma 11 org yg dapa cumlaude, masa blg SAMUA dp cumlaude. bgm lei dp penilaian itu. jadi org pande salah, jadi org bodok lei salah. apa jow ngni suka dang!!! haha
Soroton Om Sondakh ini musti didengar oleh UNSRAT. Kita bukang akademisi, tapi itu pendapat Om Sondakh masok akal deng logik. Masak samua dapa Cum Laude???
Kita usul, coba kuak POLRI boleh menyelidiki di soal2 bagini. Kalo ada penyelewangan jabatan ato suap-menyuap utk kelulusan, musti maso ke penyidikan toh.
Om Sondakh, tetap suarakan apa yang benar dan logika betul.