
Jayapura, BeritaManado.com — Petinju Sulut Toar Sompotan harus mengakui ketangguhan Bram Betaubun dari Jawa Barat di PON XX Papua.
Toar Sompotan yang bertanding di babak final kelas 81 kg harus dihentikan di ronde kedua oleh wasit, di GOR Cendrawasih Kota Jayapura, Rabu (13/10/2021).
Pasalnya, Toar yang berlaga mengenakan kostum biru terjatuh karena terkena pukulan keras di rusuk kirinya.
Alhasil, Toar tak bisa mengikuti jejak kedua rekannya, Juandy Abast dan Farrand Papendang yang sebelumnya telah duluan meraih medali emas.
Sebelumnya diberitakan, Juandy Abas yang berlaga di kelas 46 kg mampu mengalahkan petinju tuan rumah Papua Syartiel Rumaropen, di GOR Cendrawasih Kota Jayapura, Rabu (13/10/2021).
Berlaga di partai final Juandy yang mengenakan kostum merah terlihat mengeluarkan kemampuannya yang maksimal.
Bahkan lewat pukulannya yang keras, petinju Papua harus mencium kanvas di ronde pertama dan mendapat hitungan dari wasit.
Sementara Farrand Papendang yang berlaga di kelas 64 kg memenangkan partai final melawan Alfino Nanlohi dari Jawa Barat.
Farrand yang mengenakan kostum merah juga langsung melakukan serangan dengan pukulan-pukulan kombinasinya keras.
Hingga lonceng ronde akhir berbunyi, Farrand mengungguli pengumpulan poin dan wasit pun menyatakan menang angka bagi petinju Sulut ini.
Dari hasil pertandingan partai final hari ini, tim tinju Sulut telah menyumbangkan 2 emas dan 1 perak.
Ketum Pertina Sulut, Reyno Bangkang pun sangat bangga dengan pencapaian ini.
“Puji Tuhan akhirnya tinju Sulut bisa mendapat medali emas,” kata Reyno Bangkang.
Reyno pun menyampaikan terima kasih atas dukungan dan doa dari masyarakat Sulawesi Utara.
Menurutnya semua ini juga tidak lepas dari usaha yang maksimal dari atlet dan pelatih.
“Berkat kerja keras sehingga tim tinju Sulut mampu mewujudkan medali emas di PON Papua,” ujarnya.
(BennyManoppo)
