Ahmadiyah menjadi salah satu kelompok minoritas yang kerap menjadi korban politik identitas.
Sederetan kasus persekusi terhadap jemaat Ahmadiyah terjadi merentang dari awal dekade 2000-an hingga menjelang pemilu 2019.
Sekretaris Pers Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Yendra Budiana, menceritakan peristiwa penyerangan Ahmadiyah besar-besaran terjadi pada 2005, tak lama setelah pelaksanaan pemilu 2004.
Waktu itu, Gerakan Umat Islam Bersatu bersama sejumlah kelompok lain menutup kantor pusat Ahmadiyah di Bogor, Jawa Barat.
Persekusi tak hanya terjadi di kantor pusat Ahmadiyah, namun juga berupa penutupan masjid, penghentian kegiatan dan sebagainya di sejumlah wilayah.
Fenomena ini tak lepas dari kebijakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menerbitkan fatwa bahwa Ahmadiyah bukan bagian dari Islam.
Pada waktu itu, muncul narasi dengan diksi sesat untuk kelompok yang dianggap berbahaya, yang kemudian melahirkan gerakan semacam legalisasi bahwa kelompok tersebut sah untuk dipersekusi.
“Media memiliki peran signifikan dalam menggelontorkan persepsi yang salah tentang Ahmadiyah dan membangun opini ahmadiyah kelompok sesat, berbahaya,” katanya.
Pada pemilu 2009, isu Ahmadiyah dipolitisasi. Waktu itu, banyak sekali politisi atau kelompok yang terafiliasi dengan parpol peserta pemilu menebar janji politik untuk membubarkan Ahmadiyah, menutup masjid ahmadiyah dan sebagainya.
“Itu pilpres 2009. Lalu ada peristiwa Sikeusik 2011, tiga orang Ahmadiyah terbunuh diserang kelompok masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan banyaknya persekusi terhadap Ahmadiyah dan kenapa media turut memperparahnya.
Media tidak punya koneksi dengan muslim Ahmadiyah, sehingga tidak tahu harus kemana untuk meng-counter isu.
Di sisi lain Ahmadiyah mempunyai miss-persepsi dengan media.
“Karena ketika mengalami penyerangan, Ahmadiyah berharap penegakan hukum dibantu media, tapi malah lebih menginformasikan statemen dari aparat. Tidak ada komentar apapun dari Ahmadiyah. Kedua, media tidak mempunyai background apapun soal Ahmadiyah itu apa, sehingga tidak punya perspektif sama sekali untuk membicarakan Ahmadiyah,” katanya.
Menyikapi hal tersebut, Ahmadiyah pun kini berupaya untuk lebih dekat dan mengedukasi masyarakat, khususnya media.
“Kami ajak live in, pertama mengundang masyarakat termasuk media. kami persilakan melihat dengan dekat masyarakat ahmadiyah. Keseharian dan ibadahnya seperti apa,” ungkapnya.
Dengan mengetahui lebih jelas apa itu Ahmadiyah, apa saja yang dilakukan, diharapkan masyarakat dan media memiliki perspektif lebih baik dalam memandang Ahmadiyah.
Hal ini pun diharapkan dapat menekan dampak politik identitas.
