Politik dan Pemerintahan

PKS Sulut Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan

PKS Sulut Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
Penyaluran Air Bersih kepada warga yang terdampak kemarau di Kota Manado oleh DPW PKS Sulut

Penulis: Mega Anggawirya Zas | Manado

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulawesi Utara (Sulut) menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang mulai terdampak kekeringan akibat musim kemarau, Senin (3/8/2026).

Ketua DPD PKS Sulut Amir Liputo mengatakan, sebanyak 5.000 liter air bersih disalurkan kepada masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air. Bantuan tersebut habis terdistribusi hanya dalam waktu sekitar dua jam.

ADVERTISEMENT

“Alhamdulillah hari ini kami bisa berbagi air bersih untuk warga di Paniki yang mulai merasakan dampak kekeringan akibat musim kemarau. Sebanyak 5.000 liter air habis terbagi dalam waktu dua jam. Semoga hujan segera turun sehingga warga tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih. Aamiin,” ujar Amir.

Menurutnya, penyaluran bantuan ini merupakan bentuk kepedulian PKS terhadap masyarakat yang membutuhkan, terutama di tengah kondisi cuaca yang menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

Amir menegaskan, PKS akan terus hadir dan melayani masyarakat melalui berbagai aksi sosial yang memberikan manfaat langsung.

“PKS terus melayani. Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban warga yang sedang mengalami kesulitan air bersih,” pungkasnya.

Bantuan tersebut disalurkan oleh Buang Bua sebagai perpanjangan tangan Amir Liputo di lapangan. Warga menyambut gembira kehadiran bantuan air bersih karena sebagian besar sumur mereka telah mengering akibat musim kemarau berkepanjangan. Bahkan, ada yang telah memperdalam sumur, namun tetap tidak menemukan sumber air.

Di tengah proses pembagian air, Buang Bua bertemu dengan seorang lanjut usia yang meminta agar air yang diterimanya ditambah.

“Awalnya saya sampaikan kepada oma bahwa air ini harus dibagi merata dulu supaya semua rumah mendapat bagian, meski sekitar 15 ember,” ujar Buang Bua.

Namun, jawaban sang oma membuatnya terdiam.

Dengan mata berkaca-kaca, perempuan lanjut usia itu mengaku sudah sepekan tidak dapat berjualan kukis di Pasar Perum karena tidak memiliki air.

“Pak, oma so satu minggu nda bajual kukis di Pasar Perum. Cuma dari hasil bajual kukis itu oma boleh beli beras deng ikan for makan,” tuturnya lirih.

Mendengar kisah tersebut, Buang Bua langsung mengambil keputusan untuk mengisi air lebih banyak.

“Saya akhirnya mengisi sekitar 30 ember, termasuk tong air yang sudah oma siapkan. Saya berharap bantuan ini bisa membantu beliau kembali berjualan,” katanya.