Berita Utama

“Perang Kata” Pramono Anung dan Dedy Mulyadi, Macet dan Banjir Jadi Amunisi

Meski begitu, ia menegaskan bahwa Pemprov Jawa Barat tidak tinggal diam. Mereka tengah menyiapkan integrasi transportasi umum yang ramah lingkungan dan terjangkau di wilayah Bandung Raya.

Banjir Jadi Bahan Serangan Balik

Di rakor yang sama, Dedi Mulyadi ganti membahas soal banjir.

Ia dengan tegas membantah anggapan bahwa banjir di Jakarta selalu disebabkan oleh “banjir kiriman” dari Bogor.

“Enggak ada banjir kiriman dari Bogor. Air itu mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah, itu aspek siklus alam,” tegas Dedi.

Mantan Bupati Purwakarta ini kemudian melontarkan sindiran tajam.

Ia mengisyaratkan bahwa penyebab banjir sebenarnya adalah alih fungsi lahan yang pelakunya, tak lain dan tak bukan, justru banyak berasal dari Jakarta.

Mungkinkah Ini Rivalitas Politik?

Pengamat Politik, Adi Prayitno, menyoroti pernyataan-pernyataan yang dilontarkan Pramono Anung di acara rakor KPK.

Menurutnya, itu bukan sekadar sindiran halus, melainkan sebuah serangan yang cukup terang-terangan terhadap Jawa Barat.

Sementara itu, Adi Prayitno menilai tanggapan Dedi Mulyadi setelahnya sebagai semacam serangan balik.

Dedi, secara tidak langsung, ingin menyampaikan bahwa alih fungsi lahan yang terjadi di Bogor adalah ulah para pengembang dan pengusaha dari Jakarta.

“Publik mungkin juga berspekulasi selama ini alih fungsi lahan yang ada di Kabupaten Bogor memang pengusaha kontraktor dan seterusnya seterusnya itu ya memang kebanyakan mereka adalah orang Jakarta. Jadi secara tidak langsung inilah yang kita sebut sebagai balas pantun politik, sindir-menyindir dan bahkan bisa disebut sebagai perang terbuka antara dua gubernur,” papar Adi, dikutip dari kanal YouTube Adi Prayitno Official.

(jenlywenur)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara