persembahan paling berharga
waktu dan sukacita telah kita berikan
ditukar keseruan bercengkrama dengan gawai sambil melahap info-info branding, serta beragam perniagaan
para bocah, remaja, pemuda, bahkan orang tua semakin jarang menyelami lautan makna kitab-kitab samawi
dengan khusyuk dan penuh khidmat
memang masih terdengar masmur dan puji-pujian
kalam ilahi bergema terutama menjelang hari raya atau hari beribadah
namun maknanya tak merasuk dalam jiwa
nukilan hikmah dalam Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Qur’an cukup terpatri di altar dan mihrab
bukti bahwa kita telah
kehilangan embun pagi dan hening malam
kehilangan momentum untuk tafakur
dan mengucap syukur
kidung mulia mimbar-mimbar rohani
terdengar seolah tidak lebih merdu dari penggalan-penggalan nada tik-tok
riuh suara mobile legends, pubg, counter strike, overwatch, dan ribuan judul game online
inilah medan perang kita
Jamal Rahman Iroth
…..,
HARI INI SELAYAKNYA KITA
terseok kususuri jejak usiamu
memasuki sepuluh windu
sedang jiwa sendu
hari ini seyogyanya kita membaca
risalah ribuan pertempuran para patriot bangsa
melawan penjajah dan merebut kedaulatan
namun kisah-kisah heroisme itu tenggelam hiruk-pikuk kontroversi wacana pandemi
ini benar tragedi atau konspirasi
hari ini mestinya kita bahagia menyaksikan prestasi generasi muda
namun senyum mereka tertutup masker kekhawatiran
hari ini seharusnya kita sedang memaknai
kemerdekaan dan mengisinya dengan
segenap inovasi
namun pembatasan dan penyekatan memerangkap langkah-langkah optimisme
hari ini selayaknya kita sejahtera
menikmati kompensasi dari cukai
retribusi
beserta segala kutipan sudah kita tunai
namun sayangnya …,
Jamal Rahman Iroth, 2021
(***)
