Bisnis dan Ekonomi

Pengamat Sebut Seruan Boikot Grab Wajar Sebagai Respon Rasional

“Bayangkan untuk mengirim barang yang kecil, di pelosok rumah, atau hanya satu orang saja yang ingin berpergian dalam jarak pendek, tentunya Gojek jadi pilihannya,” ucapnya.

Gunawan menduga, taksi Malaysia khawatir akan mengalami kerugian jika Gojek masuk ke Malaysia sehingga pernyataan melecehkan tersebut terlontar dari pendiri taksi Malaysia.

“Memang akan menjadi masalah bagi pemilik taksi disana. Yang sudah bisa diperhitungkan bakal merugi karena kehadiran Gojek. Jadi tetap tenang dan jangan terlalu berlebihan merespon pernyataan yang melecehkan kita di sini,” ucapnya.

Ditanya perihal aksi seruan boikot Grab, Gunawan mengatakan itu adalah hal yang wajar.

Masyarakat Indonesia hanya memberikan respon rasional atas ucapan pelecehan dari pendiri taksi Malaysia.

“Kalau untuk sebutan miskin, ini relatif ya. Seorang freshgraduate di Indonesia yang digaji sekitar Rp6 juta per bulan, ini daya belinya nggak jauh berbeda dengan freshgraduate di Eropa yang digaji Rp80 jutaan. Jadi tolak ukurnya itu ada. Di Singapura orang berpendapat dikatakan menengah ke atas jika punya gaji di atas 4000 SGD, sekitar Rp40 jutaan ke atas,” jelasnya.

Lanjutnya, untuk Indonesia tidak perlu sampai demikian, cukup gaji di atas Rp4 juta, sudah bisa menikmati hidup karena memang biaya hidup di Singapura maupun Malaysia memang jauh lebih mahal.

“Roda ekonomi itu berputar, lihat China hari ini dan bandingkan 40 tahun lalu. Jadi tidak ada kata lain selain kita support Gojek untuk go internasional. Ini produk nasional yang go internasional,” tandasnya.

(***/Sri)

Tag: Grab
BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara