Internasional

Penembakan Trump Picu Perang Retorika Republik vs Demokrat

Seorang pria bernama Cole Tomas Allen, yang diduga sebagai pelaku penembakan dalam insiden di luar acara makan malam tahunan White House Correspondents’ Association (WHCA), Sabtu (25/4/2026) malam waktu setempat. [Tangkap layar X]
Seorang pria bernama Cole Tomas Allen, yang diduga sebagai pelaku penembakan dalam insiden di luar acara makan malam tahunan White House Correspondents’ Association (WHCA), Sabtu (25/4/2026) malam waktu setempat. [Tangkap layar X]

Penulis: Jenly Wenur

Insiden penembakan terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump di luar acara makan malam tahunan White House Correspondents’ Association (WHCA) pada Sabtu (25/4/2026) malam waktu setempat tidak hanya menggemparkan publik ia juga membakar pertarungan politik antara dua partai besar AS.

Otoritas hukum AS menangkap seorang pria bernama Cole Tomas Allen sebagai tersangka pelaku. Ia diduga menerobos pos pemeriksaan keamanan sambil membawa sejumlah senjata sebelum dilumpuhkan oleh anggota Secret Service. Trump sendiri menyebut kejadian itu sebagai upaya pembunuhan terhadap dirinya.

“Seorang pria menerjang pos keamanan dengan membawa banyak senjata, dan dia dijatuhkan oleh anggota Secret Service yang sangat berani,” kata Trump dalam konferensi pers usai insiden, seperti dilansir Al Jazeera.

Demokrat Kecam Kekerasan, Namun Kubu Republik Tidak Puas

Sejumlah tokoh Partai Demokrat segera menyampaikan kecaman atas kekerasan politik pasca-insiden. Senator Elissa Slotkin termasuk yang bersuara.

“Kekerasan politik tidak punya tempat di Amerika,” tulis Slotkin di media sosialnya.

Namun kelompok riset Partai Republik, RNC Research, yang dikutip New York Post, menyoroti bahwa Slotkin sebelumnya pernah menyebut Trump sebagai ancaman eksistensial bagi demokrasi, bahasa yang menurut mereka berpotensi memicu ekstremisme.

Sorotan serupa diarahkan kepada Tim Walz, mantan kandidat wakil presiden dari Partai Demokrat, yang kerap menyamakan Trump dengan figur fasis dan Nazi selama masa kampanye.

“Tidak ada yang lebih berbahaya bagi negara ini daripada Donald Trump,” kata Walz dalam kampanye 2024, pernyataan yang kembali diangkat oleh politisi Republik setelah insiden ini.

Jeffries Desak Perdamaian, Padahal Sebelumnya Serukan Perlawanan Maksimal

Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries pun tak luput dari kritik. Hanya beberapa hari sebelum penembakan, ia secara terbuka menyerukan perlawanan maksimal terhadap pemerintahan Trump.

Pasca-insiden, sikapnya berbalik: Jeffries menulis bahwa kekerasan dan kekacauan di Amerika harus segera diakhiri.

Kontradiksi inilah yang menjadi amunisi kubu Republik. Mereka menilai retorika Demokrat selama ini telah turut berkontribusi pada eskalasi ketegangan politik yang semakin berbahaya.

Politisi Partai Republik mendesak semua pihak untuk menurunkan tensi, agar tragedi serupa tidak kembali terjadi di tanah Amerika.

Insiden ini menjadi cermin betapa dalamnya jurang polarisasi politik AS dan seberapa mahal harga yang harus dibayar ketika kata-kata berubah menjadi bara.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara