Real count KPU juga mencatat PDIP berjaya di enam dapil.
Lantas, apa yang membuat perolehan suara Pileg PDIP tidak linear dengan hasil Pilpres?
Menurut Dosen Kepemiluan Universitas Sam Ratulangi Manado, Ferry Daud Liando, partai politik (parpol) kini bukan lagi alat pendulang suara.
Ferry menjelaskan, parpol hanya berfungsi sebagai institusi bagi yang mencalonkan.

Selama ini, kata Ferry, dukungan publik pada seseorang sangat dipengaruhi oleh figur atau latar belakang kandidat.
Ferry menilai, kemenangan Prabowo-Gibran sangat dipengaruhi sosok Jokowi.
Apalagi, ujar Ferry, sebelum pencoblosan, tingkat kepuasan publik atas kinerja Jokowi di atas 75 persen.
Dikatakan, selain figur Jokowi, banyak sosok lain yang namanya sangat terkenal dan dikagumi.
Dan itu berada di lingkaran pendukung Prabowo.
Kata Ferry, para figur besar itu ada yang berjuang sebatas pada media sosial, adapula membentuk tim relawan yang kelembagaannya menyebar ke berbagai komunitas
“Bahkan sejumlah artis dengan follower besar ikut mendukung Prabowo,” tegas Ferry.
Selain itu, lanjut dia, sejumlah politisi seperti Ridwan Kamil (tokoh Sunda), Maruarar Sirait (tokoh Kristen) dan Budiman Sudjatmiko dari unsur aktifis turut memberikan andil kemenangan Prabowo-Gibran.
Kondisi ini, jelas Ferry, membuat perolehan suara Prabowo dan Gerindra menjadi anomali.
Dan di Sulut, suara PDIP cukup tinggi meski capresnya kalah.
Menurut Ferry, penyebabnya adalah caleg-caleg yang dicalonkan PDIP adalah figur besar dan memiliki ikatan komunitas menyebar.
Ia mencontohkan Yasti Mokoagow yang dapat merepresentasikan Muslim dan Etnik Bolaang Mongondow.
Berikut, Vanda Sarundajang dari KGPM dan melekat nama besar Sinyo Harry Sarundajang.
Selanjutnya, Wenny Lumentut mewakili Katolik, dan Rio Dondokambey dari milenial dan gen z.
