
Manado, BeritaManado.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara mencatat, inflasi di wilayah ini pada September 2025 mengalami kenaikan sebesar 0,07 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan ini terutama dipicu oleh naiknya harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai rawit, tomat, dan daging babi.
Kepala BPS Sulawesi Utara, Aidil Adha, S.E., M.E., menjelaskan bahwa tekanan inflasi disebabkan oleh menurunnya pasokan komoditas dari petani dan pedagang setelah masa panen sebelumnya berakhir.
“Harga cabai rawit dan tomat naik karena stoknya mulai menipis di tingkat petani maupun pedagang,” ujar Aidil dalam rilis resmi BPS, Rabu (1/10/2025).
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mencatat kenaikan hingga 1,26 persen dan memberikan andil sebesar 0,08 persen terhadap inflasi umum.
Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami deflasi sebesar 0,06 persen akibat turunnya harga beras dan bawang merah.
BPS juga mencatat, tingkat inflasi tahunan (year on year) Sulawesi Utara pada September 2025 mencapai 1,57 persen, meningkat dibandingkan Agustus 2025.
Kenaikan tahunan ini terutama disumbang oleh kelompok pendidikan yang naik hingga 12,22 persen, diikuti oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,71 persen.
Secara wilayah, inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kabupaten Minahasa Utara sebesar 0,48 persen, sedangkan terendah di Minahasa Selatan yang mengalami deflasi 0,28 persen.
Aidil menambahkan bahwa pengendalian inflasi daerah tetap menjadi fokus utama melalui kolaborasi lintas sektor, terutama menjaga stabilitas harga bahan pangan strategis.
“Kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan petani sangat penting untuk menjaga kestabilan harga menjelang akhir tahun. Intervensi melalui operasi pasar dan penyaluran beras SPHP terbukti efektif menekan kenaikan harga beras,” pungkas Aidil.
(srisurya)
