Boltim

Nelayan di Boltim Rasakan Manfaat Nyata Pendampingan Rare Indonesia, Ekosistem Laut Perlahan Pulih

Nelayan di Boltim Rasakan Manfaat Nyata Pendampingan Rare Indonesia, Ekosistem Laut Perlahan Pulih
Patroli pengawasan bersama Rare Indonesia bersama Kelompok Pengelola Akses Area Perikanan (PAAP) Elang Laut, dengan dukungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kodaeral VIII Manado, Polres Bolaang Mongondow Timur, Dinas Perikanan

Boltim, BeritaManado.com — Perairan Pulau Kumeke dan Pulau Nanas di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur kembali menjadi lokasi patroli pengawasan bersama, Rabu (20/5/2026).

Kegiatan ini digelar oleh komunitas Rare Indonesia bersama Kelompok Pengelola Akses Area Perikanan (PAAP) Elang Laut, dengan dukungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kodaeral VIII Manado, Polres Bolaang Mongondow Timur, Dinas Perikanan setempat, serta penyuluh perikanan provinsi.

Patroli rutin yang digelar sekitar sekali sebulan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menekan praktik penangkapan ikan ilegal terutama pemboman dan peracunan ikan yang sebelumnya kerap merusak ekosistem laut di kawasan tersebut.

Tiga Tahun Pendampingan, Ekosistem Mulai Membaik

Nelayan di Boltim Rasakan Manfaat Nyata Pendampingan Rare Indonesia, Ekosistem Laut Perlahan Pulih

Ketua Kelompok Nelayan Kumeke-Nanas, Nasrun Damero, menyampaikan rasa syukurnya atas perubahan yang dirasakan sejak Rare Indonesia mulai mendampingi komunitas mereka tiga tahun lalu.

“Alhamdulillah, sekarang kondisi mulai agak ringan. Ikan makin lama makin banyak. Dulu karang yang menjadi rumah ikan sudah banyak yang hancur, tetapi setelah ada pendampingan dari Rare Indonesia sudah mulai sedikit aman,” tuturnya.

Dalam patroli kali ini, petugas menjumpai dua nelayan asal Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan yang berada di kawasan larang ambil (KLA). Setelah dilakukan pemeriksaan dan wawancara, keduanya terbukti hanya menggunakan jaring tanpa aktivitas mencurigakan.

Nasrun menerangkan, terdapat dua titik KLA di kawasan tersebut masing-masing di bagian barat Pulau Nanas dan bagian selatan Pulau Kumeke. Kedua titik itu, katanya, kerap menjadi lokasi temuan nelayan yang menggunakan bahan peledak atau racun ikan.

“Makanya setiap bertemu nelayan, kami wawancara dan beri nasihat supaya mereka lebih mengerti pentingnya menjaga laut,” tegasnya.

Hidup dari Laut, Penghasilan Masih Minim
Sekitar 200 nelayan menggantungkan kehidupan mereka pada perairan Kumeke-Nanas. Namun kondisi ekonomi mereka masih jauh dari sejahtera rata-rata penghasilan hanya berkisar Rp100 ribu per hari, dan bisa merosot tajam saat cuaca buruk menghalangi aktivitas melaut.

Di luar patroli, kelompok ini juga menjalankan sejumlah program konservasi bersama Rare Indonesia, meliputi penanaman mangrove, bersih pantai, pemantauan kawasan, serta pengembangan usaha masyarakat. Kelompok dibagi ke dalam empat divisi: pengawasan, penjangkauan, pemantauan, dan usaha.

Harap Lebih Banyak Perhatian Pemerintah

Di balik semangat yang tumbuh, Nasrun menyuarakan keprihatinan atas minimnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar kelompok nelayan.

Ia berharap ada realisasi konkret berupa pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), fasilitas MCK, hingga sekretariat kelompok.

“Kami berharap ada perhatian pemerintah untuk fasilitas penunjang kelompok nelayan dan pengawasan kawasan, supaya keberlanjutan sumber daya laut tetap terjaga,” pungkasnya.

Deidy Wuisan

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara