Berita Utama

Mohede: Amurang Kota Mati

Mohede: Amurang Kota Mati
Drs Ferry Mohede

Amurang—Sebelum Kabupaten Minahasa Selatan dimekarkan menjadi daerah otonomi sendiri dan pisah dengan Kabupaten Minahasa, Amurang sudah terkenal duluan. Seperti pengucapan syukur (PS), Amurang pun sudah sangat ramai. Tetapi, itu hanya di siang hari. Namun sekarang, Amurang menjadi ibukotanya Kabupaten Minahasa Selatan.

‘’Saya sangat heran, kenapa Amurang menjadi kota mati. Baru pukul 19.00 Wita, Amurang sudah sunyi. Belum lagi, kalau pukul 22.00 atau 23.00 malam. Sunyinya bagaimana kiranya. Ini karena, Amurang sudah dicap sebagai kota mati,’’ ujar Drs Ferry Mohede, pemerhati pembangunan Minsel.

Menurutnya, bagaimana supaya Amurang yang identik dengan kota mati tersebut hilang. Pertama, kita harus bangun jenis-jenis tempat berjualan. Termasuk, soal lampu jalan harus selalu ada.

‘’Memang, jaman bupati Ramoy Markus Luntungan sempat diusulkan Jembatan Patah, Ranoyapo dibangun sejumlah kios-kios. Tetapi, itu baru diusulkan. Namun demikian, hingga berakhirnya RML, usulan tersebut tidak dilakukan,’’ tegasnya.

Mohede juga menyebut, Amurang sebagai kota mati. Lantaran, tak ada Pujasera, bioskop dan kalau perlu dibangun cafe-cafe yang juga tempat hiburan malam.

‘’Akibatnya, Amurang tak bisa maju lantaran semuanya tak ada. Semuanya bergantung Bupati Tetty Paruntu. Ingat, usulnya ini bukan membuat beban bupati, tetapi hanya berupa motivasi buat kepala daerah supaya bisa mendapatkan investor atau pengusaha untuk membangun Amurang,’’ jelas Mohede. (and)

Satu tanggapan untuk “Mohede: Amurang Kota Mati”

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara