Manado – Peran media sebagai pilar bangsa satu-satunya harapan masyarakat untuk menyalurkan aspirasi terkait masalah lingkungan. Sayangnya, media-media lokal di Sulut sangat jarang dan terkesan tak peduli dalam mengawal isu-isu lingkungan. Kalau pun ada harus dibumbui dalam bentuk iklan atau advertorial.
Hal ini disampaikan Arya, aktivis mahasiswa dalam diskusi ‘Peran Blogger Dalam Mengawal Isu Lingkungan’ di Daseng, Sekretariat ANTRA, Jl Piere Tendean-Boulevard Sario, Manado, akhir pekan lalu.
Diskusi yang digelar media lingkungan terkenal di Indonesia, Mongabay bekerjasama dengan Pers Mahasiswa Inovasi Unsrat dihadiri ratusan peserta dari mahasiswa, wartawan dan pegiat lingkungan termasuk Dr Rignolda Djamaluddin PhD.
“Kami menilai media di Sulut tidak berpihak kepada rakyat kecil yang jadi korban karena masalah lingkungan. Jika lawan warga adalah perusahan besar maka jangan harap rilis yang dikirim ke media akan terbit, karena perusahan besar tadi akan mengikat media tersebut dengan kontrak iklan atau advetorial. Kami mengalami persoalan itu dalam setahun belakangan ini ketika kami mengawal rakyat yang terkena persoalan lingkungan. Jika rilis dikirim atau berita diperoleh reporter, berita tidak akan terbit karena telah ‘dihilangkan’ redaktur ataupun pemred. Makanya, kami bingung dengan media di Sulut,” tutur Arya dengan nada tinggi.(aha)
