
Manado – Keputusan rektor Unsrat Donald Rumokoy tentang metode tulis tangan untuk karya tulis para Mahasiswa Unsrat demi menghindari aksi plagiat dikritisi oleh salah satu akademisi Unsrat Mahyudin Damis. Menurutnya jangan hanya para mahasiswa yang harus menulis dengan tangan ketika membuat karya tulis tetapi juga setiap dosen yang ada di lingkup Unsrat harus melakukan hal yang sama ketika menulis karya tulis untuk kenaikan pangkat atau mendapatkan gelar.
“Metode tulis tangan memang baik, selain untuk melatih menulis indah juga menghindari plagiatisme tetapi kalau cuma ke Mahasiswa saya rasa masih belum lengkap, seharusnya juga ke seluruh dosen yang akan menulis untuk kenaikan pangkat atau mendapatkan gelar, sehingga kejadian-kejadian yang lalu seperti pencabutan gelar guru besar karena terbukti plagiat tidak akan terulang lagi,” tuturnya kepada Beritamanado.com
Dirinya pun menunjukan bukti berupa foto surat yang memberitahukan pencabuatan gelar dua guru besar Unsrat beberapa tahun silam dan mengatakan bahwa hal ini harus segera diperbaiki karena jika tidak maka cita-cita Universitas Sam Ratulangi untuk menjadi kampus yang Excellent hanya akan tinggal menjadi cita-cita. (jendri frans mamahit)

ini jhonny leh lebe abot-abot, berita nda jelas darimana mo asal sambung.sejak kapan ada pencabutan gelar dua guru besar di unsrat? asbun sekali.kalo dimaksud guru besar yg itu hari, masih ttp guru besar drg sampe sekali.ngemengnya sembarangan…
Benar juga apa yang disampaikan oleh mener mahyudin.
sepakat mener
Rektor le abot-abot, kalau terapkan aturan harusnya dapat dirasionalkan dan bermanfaat yang tidak saja mendorong motivasi mahasiswa semata tapi juga dosen. KALAU mau akreditasi mantap itu UNSRAT perlu lahirkan dosen yang berkualitas dengan karya ilmuah yang original, bukan copy paste.
Benar Mner Mahyudin, jadi teringat pribahasa ”GURU KENCING BERDIRI, MURID KENCING BERLARI. ATAU BOLEH JADI, MURID KENCING GURU P KEPALA.” Harusnya sistem ini diberlakukan ke dosen-dosen terlebih dahulu sebelum direalisaikan mahasiswa.