
Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Atjo Wahyu, SKM., M.Kes.
Penulis:
1). Daniel Robert,
2) Dorce Sisfiani Sarimin,
3) Elisabeth Natalia Barung,
4) Elne Vieke Rambi,
5) Joy Victor Imanuel Sambuaga,
6) Maykel Alfian Kiling.
Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar.

Pendahuluan
Risiko bahan kimia di tempat kerja menjadi isu penting dalam keselamatan dan kesehatan kerja karena pajanan bahan kimia dapat menimbulkan gangguan kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang.
Pekerja dapat terpapar melalui inhalasi, kontak kulit, kontak mata, kontaminasi permukaan, atau tertelan secara tidak sengaja.
Risiko tersebut tidak hanya terjadi di industri besar, tetapi juga muncul di laboratorium pendidikan, fasilitas kesehatan, pertanian, farmasi onkologi, kantor, laundry, dry cleaning, tambang, dan usaha kecil menengah.
Dalam banyak situasi kerja, pekerja tidak hanya berhadapan dengan satu bahan kimia, tetapi juga dengan pajanan campuran yang berasal dari beberapa bahan, proses kerja, lingkungan kerja, dan perilaku kerja.
Niemeier et al. (2020) menegaskan bahwa penilaian risiko kerja perlu bergerak dari pendekatan tunggal menuju cumulative risk assessment karena pekerja sering menghadapi pajanan kimia, fisik, biologis, psikososial, dan faktor individu secara bersamaan.
Oleh karena itu, risiko bahan kimia tidak cukup dipahami hanya dari nama bahan atau label bahaya.
Risiko perlu dinilai melalui hubungan antara sifat bahaya, durasi kerja, frekuensi pajanan, rute masuk ke tubuh, pengendalian teknis, APD, SOP, dan kondisi kesehatan pekerja.
Pentingnya Manajemen Risiko Bahan Kimia
Manajemen risiko bahan kimia bertujuan mencegah pajanan berbahaya sebelum menimbulkan gangguan kesehatan pada pekerja. Dalam praktik K3, manajemen risiko tidak hanya berarti menyediakan APD atau menyusun dokumen prosedur. Manajemen risiko harus dimulai dari inventaris bahan kimia, pembacaan Safety Data Sheet atau SDS, klasifikasi bahaya, penilaian rute pajanan, evaluasi proses kerja, dan
penentuan prioritas pengendalian.
Schenk (2020) menunjukkan bahwa Occupational Exposure Limits dan Derived No Effect Levels dapat membantu pengelola risiko kimia, tetapi nilai acuan tersebut hanya bermanfaat jika pengguna memahaminya dengan benar.
Zellino et al. (2024) juga menunjukkan bahwa
klasifikasi bahaya dapat berbeda antarsistem, sehingga pengambil keputusan perlu memahami dasar penetapan bahaya sebelum menentukan tingkat risiko.
Hal ini memperlihatkan bahwa pengendalian risiko kimia memerlukan literasi ilmiah, kemampuan membaca data, dan sistem organisasi yang kuat.
Tempat kerja perlu memastikan bahwa bahan kimia tersimpan dengan benar, pekerja memahami rute pajanan, ventilasi berjalan dengan baik, APD sesuai dengan jenis bahaya, dan pemeriksaan kesehatan disesuaikan dengan pajanan spesifik.

Keterbatasan Pendekatan K3 Konvensional
Pendekatan K3 konvensional sering berfokus pada kepatuhan administratif, pelatihan umum, pemeriksaan kesehatan rutin, dan penggunaan APD. Pendekatan tersebut tetap penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan risiko aktual jika tidak dikaitkan dengan data pajanan.
Bowolaksono et al. (2021) menunjukkan bahwa sistem manajemen laboratorium masih dapat memiliki kelemahan pada kepemimpinan, evaluasi kinerja, dan dukungan organisasi. Mourry et al. (2020) menegaskan bahwa laboratorium perlu menilai inventaris bahan, MSDS, klasifikasi bahaya, frekuensi penggunaan, durasi, kuantitas, audit, dan pembaruan data. Co?kun Beyan et al. (2023) menunjukkan bahwa persepsi pekerja tentang pajanan tidak selalu sejalan dengan hasil pengukuran higiene industri.
Artinya, penilaian risiko tidak boleh hanya mengandalkan rasa aman, pengalaman kerja, atau persepsi pekerja. Data objektif seperti pengukuran udara, sampel permukaan, biomonitoring, dan riwayat pajanan perlu digunakan untuk memperkuat keputusan pengendalian.
Cumulative Risk Assessment sebagai Pendekatan Integratif
Cumulative risk assessment berbasis pajanan menawarkan cara pandang yang lebih utuh dalam menilai risiko bahan kimia.
Pendekatan ini menghubungkan bahaya bahan kimia, rute pajanan, aktivitas kerja, durasi, frekuensi, pengendalian, perilaku pekerja, dan indikator kesehatan.
Dalam pendekatan ini, bahan kimia tidak dinilai sebagai entitas yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari sistem kerja. Stacey et al. (2022) memperlihatkan pentingnya pengukuran pajanan melalui analisis debu respirabel, sedangkan Botha et al. (2025) menunjukkan bahwa kontaminasi permukaan dan biomonitoring dapat mengungkap pajanan obat antineoplastik pada pekerja farmasi onkologi. Young et al. (2021) juga menunjukkan bahwa pekerja kantor dapat mengalami pajanan bahan kimia organik dari lingkungan indoor.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pajanan bahan kimia dapat muncul di tempat
yang tidak selalu dianggap berisiko tinggi.
Dengan cumulative risk assessment, tempat kerja dapat mengidentifikasi bahan prioritas, aktivitas kerja berisiko, rute pajanan dominan, dan pengendalian yang paling mendesak.
Temuan Utama Literature Review
Hasil kajian literatur menunjukkan beberapa poin penting:
• Risiko bahan kimia pada pekerja bersifat multidimensi karena melibatkan bahan, proses kerja, pajanan, perilaku, sistem manajemen, dan kondisi kesehatan.
• Pajanan bahan kimia dapat terjadi melalui inhalasi, kontak kulit, kontaminasi permukaan, kontak mata, dan tertelan secara tidak sengaja.
• Identifikasi bahaya perlu mempertimbangkan klasifikasi bahan, dosis, durasi pajanan, rute pajanan, nilai ambang, serta relevansi biologis.
• Pengukuran pajanan dan biomonitoring membantu menunjukkan risiko aktual yang tidak selalu terlihat melalui observasi biasa.
• APD penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya pengendalian.
• Pengendalian risiko perlu mengikuti prinsip hirarki pengendalian, mulai dari eliminasi, substitusi, ventilasi, SOP, pelatihan, APD, monitoring, hingga surveilans kesehatan.
• Pemeriksaan kesehatan pekerja sebaiknya berbasis pajanan spesifik, bukan pemeriksaan umum yang sama untuk semua pekerja.
• Sistem manajemen risiko perlu melibatkan kepemimpinan, dokumentasi, audit, pelatihan, komunikasi bahaya, dan evaluasi berkala.

Implikasi bagi Tempat Kerja
Kajian ini memberikan pesan praktis bahwa tempat kerja perlu memperkuat sistem penilaianrisiko bahan kimia secara terintegrasi. Pengelola K3 perlu memulai dari pemetaan bahan kimia yang digunakan, kemudian menilai bahaya, cara penggunaan, jumlah bahan, frekuensi kerja, durasi pajanan, ventilasi, SOP, dan APD.
Tempat kerja juga perlu memastikan bahwa SDS mudah diakses dan dipahami oleh pekerja.
Pelatihan harus menjelaskan rute pajanan, efek kesehatan, prosedur tumpahan, penyimpanan bahan, dan pengelolaan limbah. Pada pekerjaan dengan risiko tinggi,pengukuran lingkungan atau biomonitoring perlu dipertimbangkan.
Pada sektor dengan sumber daya terbatas, skrining risiko dapat digunakan sebagai langkahawal untuk menentukan bahan atau aktivitas yang perlu diprioritaskan.
