Agama dan Pendidikan

Kelompok 2 Doktoral IKM Unhas Ungkap Ancaman Bahan Kimia di Tempat Kerja

Kelompok 2 Doktoral IKM Unhas Ungkap Ancaman Bahan Kimia di Tempat Kerja
Kajian kelompok 2 Program Doktoral IKM Unhas tentang risiko bahan kimia di tempat kerja

Penulis: Sri Surya

Risiko paparan bahan kimia di lingkungan kerja masih menjadi tantangan serius dalam upaya melindungi kesehatan dan keselamatan pekerja.

Ancaman tersebut tidak hanya ditemukan di sektor industri besar, tetapi juga di laboratorium pendidikan, fasilitas kesehatan, pertanian, pertambangan, usaha laundry, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Temuan ini menjadi bagian dari kajian yang disusun Kelompok 2 Program Doktoral Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dalam mata kuliah yang dibimbing Prof. Dr. Atjo Wahyu, SKM., M.Kes.

Dalam kajian berjudul Mengelola Risiko Bahan Kimia di Tempat Kerja melalui Cumulative Risk Assessment Berbasis Pajanan, para peneliti menyoroti berbagai jalur paparan bahan kimia yang berpotensi dialami pekerja, mulai dari menghirup udara yang terkontaminasi, kontak melalui kulit dan mata, hingga tertelan secara tidak sengaja.

Paparan tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan dalam jangka pendek maupun jangka panjang, tergantung jenis bahan kimia, tingkat paparan, serta kondisi individu yang terlibat.

Kelompok penulis yang terdiri atas Daniel Robert, Dorce Sisfiani Sarimin, Elisabeth Natalia Barung, Elne Vieke Rambi, Joy Victor Imanuel Sambuaga, dan Maykel Alfian Kiling menilai bahwa pendekatan penilaian risiko yang hanya berfokus pada satu jenis bahan kimia sudah tidak lagi memadai.

Menurut mereka, pekerja pada praktiknya sering menghadapi berbagai bentuk paparan secara bersamaan, baik dari bahan kimia, faktor fisik, biologis, maupun kondisi lingkungan kerja lainnya.

Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh melalui Cumulative Risk Assessment (CRA) atau penilaian risiko kumulatif berbasis pajanan.

Pendekatan ini mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi risiko, seperti jenis bahan kimia, jalur paparan, durasi dan frekuensi kerja, perilaku pekerja, serta efektivitas sistem pengendalian yang diterapkan di tempat kerja.

Kajian tersebut juga menegaskan bahwa pengelolaan risiko bahan kimia tidak cukup hanya dengan menyediakan alat pelindung diri (APD).

Perusahaan dan institusi perlu melakukan inventarisasi bahan kimia secara berkala, memahami informasi yang tercantum dalam Safety Data Sheet (SDS), mengidentifikasi jalur paparan, memastikan sistem ventilasi berfungsi optimal, serta memberikan pelatihan yang memadai kepada pekerja.

Selain itu, para peneliti menemukan bahwa persepsi pekerja terhadap tingkat bahaya sering kali tidak sejalan dengan kondisi risiko yang sebenarnya.

Oleh sebab itu, pengukuran kualitas udara, pemeriksaan lingkungan kerja, biomonitoring, serta penggunaan data pajanan yang objektif menjadi komponen penting dalam proses penilaian risiko.

Berdasarkan telaah literatur yang dilakukan, risiko bahan kimia dinilai bersifat multidimensi karena dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari karakteristik bahan, proses kerja, perilaku pekerja, sistem manajemen, hingga kondisi kesehatan individu.

Untuk itu, pengendalian risiko harus mengikuti hirarki pengendalian yang telah diakui dalam praktik keselamatan dan kesehatan kerja (K3), yakni eliminasi sumber bahaya, substitusi dengan bahan yang lebih aman, perbaikan sistem ventilasi, penyusunan prosedur kerja yang baik, pelatihan, penggunaan APD, hingga pemantauan kesehatan pekerja secara berkala.

Sebagai implikasi praktis, kajian tersebut merekomendasikan agar setiap tempat kerja memperkuat sistem penilaian risiko bahan kimia secara terintegrasi.

Pengelola K3 perlu memetakan seluruh bahan kimia yang digunakan, mengevaluasi cara penggunaannya, serta memastikan informasi bahaya dapat diakses dan dipahami oleh seluruh pekerja.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara