
Tomohon, BeritaManado.com — Lokasi tempat berdirinya Sekokah SD Katolik St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen memiliki benang merah dengan sejarah misi perkembangan Gereja Katolik di Kakakasen.
Konon ceritanya, lokasi ini dulunya pernah jadi lahan pekuburan Katolik atau dalam bahasa Belanda disebut Keerkoff.
Informasi yang diperoleh BeritaManado.com, ada sejumlah Pastor dari Ordo Serikat Jesus (SJ) yang dimakamkan di tempat ini dan tidak sempat dipindahkan saat dilakukan penggalian beberapa tahun lalu saat hendak dibangun sekolah.
Terkait penggalian makam di lokasi sekolah tersebut, mantan Guru Jumat selama 30 tahun Alexius Toreh, kepada BeritaManado.com, Senin (24/5/2021) menuturkan dalam sebuah wawancara bahwa dahulu kala kektika dilakukan penggalian makam, diberi waktu kepada pihak keluarga dalam kurun waktu 3 bulan.
“Jadi selama tiga bulan itu ada cukup banyak keluarga yang menggali dan memindahkan kerangka jenazah anggota keluarga yang dikubur di tempat itu. Setelah genap 3 bulan, maka pemerintaj dan tokoh masyarakat sepakat untuk menghentikan kegiatan penggalian makam. Hal itu karena di lokasi yang sama akan segera dibangun fasilitas kesehatan Puekesmas. Seiring perjalanan waktu, Puskesmas akhirnya dibangun di lokasi yang tidak jauh dari sekolah,” ujar Alexius Toreh.
Ditambahkannya, untuk kubur-kubur yang tidak sempat digali dan dipindahkan diberi tanda dengan Tawaang, sejenis bunga daun yang oleh orang Minahasa sangat erat kaitannya dengan budaya atau tradisi.
Diluar dari dugaan adanya kerangka jenazah 4 Pastor Jesuit yang tidak sempat dipindahkan, lokasi sekolah tersebut berada dalam satu kawasan dengan bangunan gereja yang lama, dimana saat ini telah berdiri megah Aula Paroki.
“Sejauh yang sempat diingat, tidak jauh dari sekolah ada beberapa kubur tempat dimakamkannya orang Belanda. Kalau terkait dengan sejarah Gereja, maka sebaiknya hal ini diselidiki lebih lanjut untuk memastikan kebenarannya. Saya pikir ini upaya yang baik jika saat perayaan Yubelium 150 kembalinya misi Katolik di Minahasa bisa ada sebuah buku yang mendokumentasikan peristiwaa-peristiwaa masa lalu umat,” ungkapnya.
(Frangki Wullur)
