Kenaikan harga bawang merah dan tomat sejalan dengan fenomena yang terjadi di Kota Manado.
Meski demikian penurunan harga pada komoditas ikan cakalang, bayam dan kangkung menahan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari kelompok tersebut.
Sementara itu, tekanan inflasi di Kotamobagu juga didorong oleh kenaikan harga lima kelompok pembentuk inflasi Iainnya, berbeda dengan Manado yang digerakkan oleh dua kelompok pembentuk inflasi.
Bank Indonesia dan TPID Sulut memandang meningkatnya tekanan inflasi di Kota Manado sesuai dengan pola historis memberikan indikasi pemulihan konsumsi masyarakat.
Aktivitas sosial ekonomi kembali menunjukan tren positif pada November 2020 setelah pada Oktober cenderung stagnan.
Rata-rata Google Mobility Index untuk Sulawesi Utara terutama untuk kategori grosir dan farmasi telah mencapai angka positif pada bulan Oktober 2020 terus berlanjut hingga November 2020.
Hal ini menunjukan level aktivitas grosir dan farmasi setidaknya sudah serupa dibandingkan level aktivitas pra COVID-19.
Dari sisi retail dan rekreasi, meski lambat, kenaikan aktivitas tetap ada seiring penurunan dari baseline pra COVID-19 pada November rata-rata tercatat sebesar -12,9 persen Iebih rendah dibanding Oktober yang tercatat sebesar -15,2 persen.
“Kenaikan aktivitas ini diperkirakan akan terus berlanjut pada bulan Desember. Kenaikan aktivitas juga didorong dengan permintaan yang cenderung meningkat pada akhir tahun menjelang hari raya natal dan tahun baru,” kata Arbonas.
Meningkatnya aktivitas dan permintaan masyarakat akan ditransmisikan pada kenaikan tekanan inflasi.
Hal ini juga sejalan dengan pola historis tekanan inflasi Kota Manado yang relatif tinggi pada akhir tahun.
Meski demikian, inflasi diperkirakan masih akan terkendali seiring adanya kenaikan produksi dan membaiknya ketersediaan pasokan komoditas-komoditas strategis.
Ke depan, pengendalian inflasi tidak dapat dilepaskan dari pergerakan aktivitas ekonomi.
Kurva kasus aktif Covid-19 Sulawesi Utara perlu terus ditekan dan dipertahankan pada level yang terkendali sehingga aktivitas sosial ekonomi masyarakatnya tetap meningkat.
Meski berisiko memberikan tekanan inflasi, peningkatan aktivitas tentu akan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Oleh karena itu, Bank Indonesia memandang bahwa upaya bersama serta sinergi seluruh Dinas dan Kementerian/Lembaga terkait untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas strategis perlu dilakukan dalam pengendalian inflasi di tengah potensi peningkatan permintaan.
Ketersediaan pasokan dan manajemen stok pangan akan Iebih efektif dan efisien bila dilakukan antar daerah dengan memanfaatkan sumber daya daerah yang berlebih.
Koordinasi lintas TPID kabupaten/kota terutama dengan TPID di wilayah produsen pangan penting diperkuat untuk mengantisipasi potensi permasalahan pasokan, distribusi maupun keterjangkauan harga secara dini.
“Selain itu, salah satu langkah strategis yang potensial adalah dengan membangun Kerjasama Antar Daerah (KAD), yang diharapkan akan mendukung terciptanya mekanisme perdagangan komoditas strategis yang Iebih efisien di Manado dan Kotamobagu,” pungkas Arbonas.
