Berita Utama

Kopi Langowan, Antara Nostalgia Sejarah, Secangkir Minuman Hingga Nama Kampung

Kopi Langowan, Antara Nostalgia Sejarah, Secangkir Minuman Hingga Nama Kampung
Efrando Moningka dengan latar belakang pohon kopi di Desa Sumarayar

Langowan, BeritaManado.com – Langowan adalah suatu wilayah yang terdiri dari berbagai komunitas masyarakat dengan latar belakang keunikan masing-masing.

Nama-nama kampung sangat beragam dengan arti dan makna yang juga berbeda satu sama lain di lebih dari 40 kampung/desa.

Keberadaan tanaman kopi di Langowan tidak bisa dilepaskan dengan kisah pilu masa lalu saat Indonesia berada dibawah penjajahan bangsa Belanda.

Langowan sebagai salah satu wilayah yang pernah diduduki oleh Belanda, ternyata menyimpan cerita unik yang lahir dari tanaman kopi.

Menurut cerita tua-tua kampung, dahulunya pohon kopi bisa ditemukan di hampir seluruh wilayah Langowan.

Kopi Langowan, Antara Nostalgia Sejarah, Secangkir Minuman Hingga Nama Kampung
Pohon kopi di Desa Sumarayar

Kopi juga sering digunakan warga setempat sebagai minuman yang digemari warga, termasuk saat menyambut kedatangan kerabat dan saudara dalam berbagai kesempatan.

Dalam acara suka duka, kopi tidak pernah terlewatkan untuk menemani warga saat berbagi kisah, baik pada pagi, siang, sore hingga malam hari.

Tidak hanya itu, bahkan di wilayah Kecamatan Langowan Barat ada satu kampung yang dinamakan Kopi Wangker yang artinya Kopi Besar.

Kini jejak keberadaan pohon kopi hanya bisa di temui di tempat-tempat tertentu di sejumlah desa, seperti Kawatak, Koyawas, Sumarayar dan sekitarnya.

Pohon kopi di Langowan punya karakteristik yang unik, mulai dari ukuran biji kopinya hingga ukuran pohon yang bisa mencapai lebih dari 5 meter bisa ditemui.

Kopi Langowan, Antara Nostalgia Sejarah, Secangkir Minuman Hingga Nama Kampung
Biji Kopi Langowan

Efrando Moningka, warga Desa Sumarayar menuturkan bahwa pohon kopi yang ada desanya meski tidak banyak lagi, tingginya melebihi ukuran tubuhnya.

“Mungkin saja pohon kopi itu ditanam oleh dua atau tiga generasi diatas saya. Baik juga jika tanaman kopi ini kembali dibudidayakan di Langowan dan bisa menjadi ciri khas daerah ini,” katanya.

Jika hal itu berhasil dilakukan, maka Langowan tidak perlu terlalu tergantung dengan kopi kemasan yang sangat banyak dijual di warung, toko dan pasar tradisional.

“Mudah-mudahan saja ada pengusaha atau investor orang Langowan yang tertarik untuk mengembangkan kembali tanaman kopi. Di disisi lain Kopi Langowam akan menjadi salah satu komoditi andalan untuk perekonomian masyarakat Langowan sendiri,” harapnya.

(Frangki Wullur)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara