
Penyaluran bantuan sosial secara masif hingga rentetan kebijakan strategis berskala nasional mewarnai kilas sepekan langkah Christiany Eugenia Paruntu (CEP). Sebagai Anggota DPR RI Fraksi Golkar Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Utara, figur ini kembali membuktikan kelasnya tak hanya sebagai politisi tangguh di Senayan, namun juga sosok pelindung bagi warga yang dilanda musibah.
Periode 23 hingga 28 April 2026 menjadi saksi padatnya agenda dan manuver dari tokoh Golkar tersebut.
Dari lorong-lorong lembaga pemasyarakatan yang terdampak gempa bumi di Sulawesi Utara, hingga meja rapat Komisi XII DPR RI, kiprahnya membetot perhatian publik secara emosional maupun manajerial.
Kehadirannya menyalurkan bantuan sosial di lapangan seakan menjadi oase di tengah krisis pascabencana.
Ia secara aktif turun tangan untuk memastikan tidak ada satupun kelompok masyarakat rentan yang luput dari jangkauan jaring pengaman sosial.
Langkah senyap ini sontak menuai apresiasi luas dari berbagai kalangan.
Misi Kemanusiaan: 1.192 Paket Bantuan Sosial Sentuh Warga Binaan
Aksi nyata kepedulian Christiany Eugenia Paruntu bermula dengan menyasar titik-titik yang sering kali terlupakan dari pantauan publik, yakni fasilitas pemasyarakatan.
Ia menginisiasi langsung penyaluran 1.192 paket bantuan sosial khusus bagi narapidana, tahanan, serta jajaran petugas lapas yang ikut merasakan dampak guncangan gempa bumi.
Distribusi ratusan paket logistik ini mengalir secara proporsional ke Lapas Kelas IIA Manado di Tuminting, Rutan Kelas IIA Malendeng, hingga Lapas Kelas III Amurang.
Bagi CEP, inisiatif berbagi ini adalah panggilan moral untuk menghadirkan wujud nyata negara di masa darurat, menegaskan bahwa warga binaan memiliki hak setara atas sentuhan kemanusiaan.
Estafet kemanusiaan ini terus berlanjut menyentuh masyarakat di akar rumput tanpa henti.
Ratusan warga yang bermukim di tiga kelurahan wilayah Amurang, Minahasa Selatan, turut merasakan paket kebutuhan pokok sebagai penanda komitmen pemulihan daerah yang siap dikawalnya.
Gebrakan Komisi XII: Transaksi DMO Rupiah dan Keadilan Energi
Selain sibuk membereskan urusan kemanusiaan di kampung halaman, manuver CEP dalam kilas sepekan di panggung legislatif nasional juga patut diperhitungkan.
Merespons tingginya tensi geopolitik, ia menyuarakan desakan lantang kepada PT Pertamina agar segera mengamankan ketahanan energi nasional secara utuh.
Salah satu inisiatif tajam yang ia sodorkan adalah penerapan kewajiban transaksi batu bara Domestic Market Obligation (DMO) menggunakan instrumen mata uang Rupiah.
Langkah ini dinilainya sangat vital guna memperkokoh stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian pasar global, mengingat volume cadangan batu bara lokal yang sangat mendominasi.
Perhatian besar CEP terhadap akselerasi pembangunan infrastruktur kawasan timur Indonesia juga tak luput disuarakan dengan menekan PLN untuk mempercepat realisasi proyek energi surya.
Rangkuman kilas sepekan ini pada akhirnya menegaskan jati diri Christiany Eugenia Paruntu yang piawai menyeimbangkan tugas negara di parlemen dan ketulusan berbagi bantuan sosial bagi seluruh warga Sulawesi Utara.
