Kota Bitung

Kami Tak Tau Harus Kemana Mengadu

Warga Batuputih ketika mendatangi Polres Bitung (foto beritamanado)
Warga Batuputih ketika mendatangi Polres Bitung (foto beritamanado)

Bitung – Kartini Takaliuang hanya bisa menitikkan air mata ketika ayahnya Ferdinand Takaliuang ikut diamankan dan dijadikan tersangka bersama 16 warga Batuputih lainnya. Ia bersama ratusan warga Batuputih yang berjuang menjaga kelesatrian hutan TWA Batuputih secara turun-temurun malah dilaporkan BKSDA Sulut sebagai permabah hutan.

“Kenapa selalu kami yang menjadi korban. Kenapa bukan oknum petugas BKSDA Sulut yang ditangkap. Apa salah jika kami memprotes pembangunan jalan yang mengorbankan puluhan pohon,” kata Kartini, Senin (10/2/2014).

Kartini bersama ratusan warga Batuputih mengaku sudah habis-habisan, baik materi dan tenaga hanya untuk memprotes proyek pembangunan jalan wisata yang dibangun di kawasan TWA Batuputih.

“Kami mengadu ke Pemkot tak ditanggapi, ke DPRD juga tak ditanggapi. Begitupula ke Polisi tetap laporan kami tak diindahkan. Terus kami mau mengadu kesiapa lagi yang bisa peduli dengan perjuangan menjaga hutan TWA Batuputih,” katanya.

Tapi ketika BKSDA Sulut melaporkan tindakan mereka menduduki lahan TWA Batuputih, Polisi begitu cepat bereaksi dan langsung mengamakan 17 warga. “Kami menduduki lahan TWA Batuputih karena sudah lelah permintaan kami agar proyek jalan wisata dihentikan dan ditinjau kembali. Tapi malah kami yang kini dipenjara bukannya dilindungi,” katanya.

Warga Batuputih bersama Kartini mengaku tak percaya lagi dengan Pemkot Bitung, DPRD dan aparat penegak hukum, karena selama ini tak mau mendengar dan melindungi mereka sebagai warga Kota Bitung.

“Kami cuma mau cari perlindungan dan keadilan ke Pemkot dan DPRD tapi unjungnya sampai di penahanan,” katanya.(abinenobm)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara