
Manado, BeritaManado.com – Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung melakukan kunjungan akademik ke Pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sulawesi Utara dan disambut langsung oleh Ketua IPSI Sulut, Drs. Pontowuisang Kakauhe.
Dalam kunjungan tersebut, tim ISBI Bandung yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn, menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka.
Salah satu fokus utama riset adalah melihat lebih dalam tentang bagaimana pencak silat tidak hanya menjadi olahraga bela diri, tetapi juga sarana pembentukan ketangguhan mental atlet, terutama saat menghadapi situasi sulit seperti cedera di tengah kompetisi.
“Tujuan kami datang ke Sulut adalah melakukan riset mengenai bagaimana pencak silat dapat membentuk ketangguhan mental. Kami ingin mengetahui apakah atlet mengalami trauma ketika mengalami cedera saat pertandingan,” jelas Prof. Sri Rustiyanti.

Namun, dari hasil wawancara awal dengan sejumlah atlet IPSI Sulut, ditemukan hal menarik.
Banyak atlet mengaku bahwa cedera bukanlah hambatan besar dalam perjalanan mereka, bahkan tidak menimbulkan trauma berarti.
Sebaliknya, pengalaman itu justru menjadi pembentuk mental dan memperkuat semangat juang mereka.
“Berdasarkan temuan kami, para atlet justru menunjukkan daya tahan mental yang luar biasa. Rasa sakit karena cedera dianggap bagian dari proses, bukan sesuatu yang membuat mereka mundur. Ini sangat langka dan berharga sebagai contoh ketangguhan mental,” tambah Prof. Sri.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa hasil penelitian ini nantinya tidak hanya berhenti pada dunia olahraga, tetapi juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa ISBI Bandung.
Nilai-nilai keteguhan hati para atlet pencak silat diyakini mampu memperkaya kreativitas mahasiswa, terutama ketika ISBI tengah mempersiapkan program studi baru yang menghubungkan seni, budaya, dan olahraga tradisional Indonesia.
Sementara itu, Ketua IPSI Sulut, Pontowuisang Kakauhe, menyambut baik langkah riset yang dilakukan ISBI Bandung.
Menurutnya, pencak silat memang bukan sekadar bela diri, tetapi bagian dari warisan budaya yang sarat nilai mental, spiritual, dan kebangsaan.
“Kami bangga IPSI Sulut bisa menjadi bagian dari penelitian ini. Apa yang dialami atlet-atlet kami semoga bisa menjadi bahan kajian yang bermanfaat, tidak hanya bagi dunia akademik, tetapi juga pengembangan pencak silat sebagai olahraga sekaligus seni budaya bangsa,” ujar Kakauhe.
Tampak hadir juga dalam pertemuan tersebut, Dr. Wanda Listiani, M.Ds, Dr. Anrilia E.M. Ningdyah, S.Psi., M.Ed., Psikolog, Dra. Suryanti, M.Pd, serta pengurus IPSI Sulut.
(Jhonli Kaletuang)
