
Puan Maharani usai terpilih sebagai Ketua DPR periode 2019-2024.
Jakarta, BeritaManado.com – Bambang Soesatyo dan Puan Maharani menjadi top opinion leader anggota parlemen.
Keduanya mampu memaksimalkan posisi mereka sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR di ruang media massa.
Selain itu, keduanya mampu mengapitalisasi momentum dan isu yang mengemuka dan menjadi bahan perbicangan awak media massa.
Hasil kajian riset data media monitoring Institut Riset Indonesia (INSIS) selama Oktober hingga Desember 2019 menunjukkan, Bambang Soesatyo muncul di 485 publikasi dan Puan Maharani di 270 publikasi.
Di belakang mereka, ada politikus Partai Gerindra Sufmi Ahmad Dasco yang muncul 239 kali. Lalu, politisi PPP, Arsul Sani 221 publikasi.
“Jika kita perhatikan data, maka wajah top opinion leader parlemen pada tri semester pertama dihuni oleh elit pimpinan MPR dan DPR. MPR ada Bambang Soesatyo dan Arsul Sani. Wajah DPR diwakili Puan Maharani dan Sufmi Ahmad Dasco. Ini given atau terjadi secara alamiah,” buka Peneliti INSIS Wildan Hakim dalam rilisnya ke redaksi BerotaManado.com, Jumat (8/2/2020).
Dari data INSIS diketahui, politikus Gerindra Ahmad Muzani juga masuk ke dalam jajaran opinion leader dari cluster pimpinan MPR.
Muzani muncul di 163 publikasi.
Disusul politikus PKB, Jazilul Fawaid yang muncul di 157 publikasi.
Dari PKS, Hidayat Nur Wahid muncul di 148 publikasi.
Sedangkan opinion leader cluster pimpinan DPR, ada dari Golkar, Azis Syamsuddin, 148 publikasi.
Di luar cluster tersebut munculnya dua nama yakni politikus Gerindra, Fadli Zon.
Bekas Wakil Ketua DPR itu dikutip pernyataannya di 159 publikasi.
Berikutnya politikus PKS, Mardani Ali Sera yang muncul di 155 publikasi.
Jika data dibaca lebih mendalam maka praktis Puan Maharani menjadi Ratu Opini.
Karena, ia satu-satunya perempuan yang menyelinap di antara para opinion leader laki-laki.
Jabatan yang diemban Puan Maharani sebagai Ketua DPR menjadikannya sebagai magnet bagi pekerja media.
“Tak ubahnya seperti Lara Croft. Dia punya segala tools. Di kelembagaan PDI Perjuangan dan DPR, dia menjadi elit. Memang, di setiap periode, Ketua DPR itu jabatan yang sangat strategis dan dituntut bisa merespon beragam isu-isu nasional secara cepat,” urai Wildan yang juga akademisi di Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Al Azhar Indonesia.
