Jakarta, BeritaManado.com – Kinerja komunikasi politik seorang anggota parlemen diukur dari intensitas serta frekuensi kemunculan dalam pemberitaan di media massa.
Makin sering muncul memanfaatkan dan menciptakan sebuah isu atau tema publikasi maka ia dianggap mampu dikatakan mengkapitalisasi ruang publikasi yang tersedia di media massa.
Hasil kajian riset data media monitoring Institut Riset Indonesia (INSIS) selama Oktober hingga Desember 2019 menunjukkan, Hillary Brigita Lasut menjadi anggota Parlemen paling maksimal dalam menggerakkan kinerja komunikasi politiknya berkomentar di media massa untuk daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Utara (Sulut).
Politisi Mmllenial Partai Nasdem itu muncul dalam 21 publikasi.
Di belakangnya, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Djafar Alkatiri sebanyak tiga (3) kali.
Disusul, Felly Estelita Runtuwene dari Partai Nasdem sebanyak dua (2) kali.
“Dapil Sulut menyumbang 10 anggota parlemen. Enam (6) di DPR. Tiga (3) dari PDI Perjuangan. Dua (2) dari Nasdem. Satu (1) dari Golkar. Serta empat (4) dari DPD,” buka peneliti INSIS Wildan Hakim dalam press rilis ke redaksi BeritaManado.com, Selasa (10/3/2020).
Kesepuluh nama tersebut diantaranya yakni dari PDI Perjuangan Adriana Charlotte Dondokambey, Herson Mayulu, dan Vanda Sarundajang.
Dari Nasdem, Hillary Brigita Lasut dan Felly Estelita Runtuwene. Dari Golkar, Adrian Jopie Paruntu.
Dari DPD, Cherish Harriette, Maya Rumantir, Djafar Alkatiri, dan Stefanus B.A.N Liow.
Dalam data INSIS diketahui, Hillary muncul di publikasi bertemakan DPR Millenial, DPR–Anggota DPR Penuhi Janji Kampanye, DPR–tantangan perbaikan kualitas SDM/produk legislasi, Perebutan Kursi Pimpinan DPR, Perebutan Kursi Pimpinan MPR, Politikus Milenial Pilih Media Sosial, dan Profil anggota DPR.
Untuk Felly, nama dia muncul di publikasi bertemakan BPJS–kenaikan iuran dan BPJS–reformasi/kinerja/tunggakan.
“Sedangkan Djafar Alkatiri, muncul di tema publikasi DPT Kerap Bermasalah, Papua–penanganan konflik/pembentukan pansus, dan Pilkada–pakai APBN,” tambah Wildan Hakim yang juga akademisi di Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta.
Peneliti senior INSIS, Dian Permata mengatakan, keberadaan media massa dan anggota parlemen tidak dapat dipisahkan.
Keduanya saling mempengaruhi dan saling membutuhkan satu sama lain.
Anggota parlemen memerlukan media massa untuk mengintervensi agenda politik mereka kepada pemerintah.
Sebaliknya, media massa memerlukan anggota parlemen untuk menyampaikan agenda publik yang sedang ramai diperbincangkan.
“Titik singgungnya di situ. Keduanya saling membutuhkan. Karena keduanya memiliki agenda setting masing-masing. Terlebih lagi jika berkaitan dengan tupoksi anggota parlemen terhadap pengawasan pemerintah,” kata Dian.

