BeritaManado.com – Berita Terkini dari Manado

Ini Pesan Ketua Umum LPAI KAK SETO kepada 5 Remaja Korban Penganiayaan Puluhan Polisi Sabhara

February 08
09:59 2018
Kak Seto memberikan pengarahan kepada siswa korban penganiayaan

Kak Seto memberikan pengarahan kepada para siswa korban penganiayaan polisi sabhara

 

Manado, BeritaManado.com – Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) merespon serius kasus penganiayaan terhadap 5 remaja warga Kelurahan Perkamil dan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Kota Manado, yang diduga dilakukan 20 lebih anggota Sabhara yang bertugas di Polda Sulut.

Respon serius tersebut dibuktikan dengan kunjungan Ketua Umum LPAI Seto Mulyadi akrab disapa Kak Seto kepada 5 korban penganiayaan di SMA Negeri 4 Manado di Perkamil, Selasa (6/2/2018), seperti diutarakan Ketua LPAI Sulawesi Utara, Adv. E.K Tindangen SH.

“Iya benar, lima korban penganiayaan dikunjungi Kak Seto, mereka diberikan penguatan sekaligus arahan positif dari Kak Seto. Secara mental mereka sudah dikuatkan dan bisa melanjutkan pendidikan yang kebetulan mereka belajar di beberapa sekolah berbeda,” ujar E.K Tindangen kepada BeritaManado.com, Kamis (8/2/2018).

Dia menambahkan, kepada para siswa korban penganiayaan Kak Seto berpesan agar mereka dapat menyelesaikan pendidikan dan kalau bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, tidak melakukan tindakan-tindakan negatif yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

“Termasuk ketika mengendarai sepeda motor menggunakan helm standart sesuai aturan, tidak ugal-ugalan di jalan. Menjaga wibawa diri sendiri dan keluarga dengan tidak terlibat pergaulan bebas, menjauhi narkoba, alkohol, judi dan berbagai tindakan negatif lainnya,” tandas E.K Tindangen yang baru saja dilantik Kak Seto sebagai Ketua LPAI Sulut.

Sebelumnya diberitakan, komitmen Kapolda Sulut, Irjen Pol Bambang Waskito, memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dikotori oleh sekelompok polisi Sabhara.

Pasalnya, lebih dari 20 polisi Sabhara Polda Sulut diduga telah menganiaya 5 remaja warga Perkamil dan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Kota Manado.

Ke-5 korban adalah Yeheskiel Tumimomor, Reza Walla, Brilian Karisoh, Daniel Kalalo dan Frangke Pelengkahu.

Diceritakan korban Yeheskiel Tumimomor didampingi Jutry Tumimomor, ayah korban, kepada BeritaManado.com di rumah kediaman mereka di Kelurahan Ranomuut, Lingkungan 5, Kamis (1/2/2018) pekan lalu, kejadiannya hampir dua bulan lalu yakni, Rabu 13 Desember 2017, sekitar pukul 02.00 WITA dinihari.

Tempat kejadian pemukulan di sekitar Supermarket Perkamil Jaya dan Perumahan Malendeng Residence.

Korban Yeheskiel Tumimomor bersama 4 orang temannya, warga Perkamil, diduga mengalami penganiayaan berat yang dilakukan lebih dari 20 polisi Sabhara Polda Sulut.

Kejadian berawal ketika korban bersama 5 temannya berboncengan menggunakan 3 sepeda motor begadang semalaman melintasi jalan Perkamil, sementara mengendarai tiba-tiba datang pengendara motor lain yang coba menyerempet motor korban. Secara spontan mereka berteriak, setelah itu pengendara motor yang menyerempet menghilang.

Polisi Sabhara yang berjumlah 20 orang lebih yang kebetulan berada di Polsek Tikala samping SMA Negeri 4 Perkamil mendengar teriakan korban. Korban bersama temannya diikuti hingga Supermarket Perkamil Jaya.

Dua orang teman korban dipanggil oknum Sabhara yang tanpa konfirmasi terkait kejadian yang baru saja terjadi langsung
melakukan penganiayaan kepada dua teman korban hingga korban masuk saluran air dekat supermarket.

Melihat dua teman mereka sudah dianiaya, korban Yeheskiel bersama seorang teman menggunakan sepeda motor langsung melarikan diri ke arah Perumahan Malendeng Residence dekat ringroad.

Bak singa yang kelaparan oknum Sabhara mengejar mereka, tepat di terowongan dekat Perumahan Malendeng Residence korban dianiaya.

Korban besama 4 teman korban dibawa ke Polsek Tikala sekitar pukul 3.00 WITA, sementara seorang teman mereka lolos dari penganiayaan karena sudah pulang saat kejadian penganiayaan. Ke-5 korban dipaksa jalan jongkok dari jalan raya hingga kantor Polsek Tikala yang berjarak puluhan meter.

Tanpa perikemanusiaan, lima korban penganiayaan ini sambil berjalan masih dianiaya, dipukul, ditendang menggunakan sepatu lars hingga gigi dari korban Yeheskiel rontok. Lima korban penganiayaan ini mengalami banyak luka di tangan, kaki hingga luka lebam di wajah.

Usai menganiaya, puluhan anggota Sabhara ini meninggalkan kantor Polsek Tikala, selanjutnya para korban ditangani anggota Polsek Tikala.

Sekitar Pukul 09.00 WITA, orang tua salah-satu korban yakni Reza Walla mendatangi Polsek Tikala. Setelah diizinkan mengambil foto, sekitar pukul 11.00 WITA, 5 korban diantar orang tua dari korban Reza Walla melapor ke Propam Polda Sulut.

Sekitar Pukul 13.00 WITA, korban Reza Walla menjalani visum et repertum di Rumah-Sakit Bhayangkara Karombasan. Orang tua Yeheskiel baru mengetahui pukul 17.00 WITA. Korban Yeheskiel divisum di Rumah-Sakit Bhayangkara pukul 23.00 WITA.

Jutry Tumimomor, mewakili orang tua para korban menyesalkan respon negatif Polda Sulut, sejak dilaporkan pada 13 Desember 2017 hingga 23 Januari 2018 belum mendapat tanggapan serius.

“Sekitar 23 Januari 2018 korban Resa Walla didampingi orang tua di-BAP di Polda. Kemudian 24 Januari lima korban mendatangi Polda. BAP penyidik ada empat orang tiga perempuan dan satu laki-laki. Mereka janjikan mediasi tapi hingga sekarang tidak dilakukan,” jelas Jutry Tumimomor.

Jutry Tumimomor berharap pihak Polda Sulut menuntaskan kasus penganiayaan berat ini. Menurut dia, polisi sebagai pengayom masyarakat mestinya memberikan rasa aman dan nyaman bukan sebaliknya menjadi pelaku pidana.

“Komitmen bapak Kapolda memberi raya aman dan nyaman kepada masyarakat dikotori oleh oknum-oknum polisi Sabhara ini. Jika anak-anak kami melakukan pelanggaran hukum mestinya diproses sesuai hukum, bukan dianiaya. Terbukti di Polsek Tikala tidak ditemukan senjata tajam pada anak-anak kami bahkan tidak ada bau minuman keras. Justru menurut anak-anak, oknum Sabhara yang berbau alkohol,” tukas Jutry Tumimomor.

Lanjut Jutry Tumimomor, pihaknya memiliki bukti penganiayaan melalui hasil visum yang sudah diserahkan kepada pihak kepolisian.

“Bahkan kami punya foto-foto luka lebam di wajah dan bagian tubuh lainnya dari para korban yang kami foto sendiri,” tandas Jutry.

Polda Sulut melalui Kabid Humas, Kombes Pol Ibrahim Tompo, SIK, MSi, dikonfirmasi BeritaManado.com, Selasa (6/2/2018) siang, mengatakan, pihaknya masih menelusuri kejadian tersebut. Alasannya, kasus dugaan penganiayaan membutuhkan pembuktian.

“Sebenarnya yang terjadi anggota kami melakukan tindakan pengamanan tapi mereka tidak terima. Sesuai laporan anak-anak itu mabuk dan balapan liar bahkan ada yang membawa senjata tajam. Sebenarnya yang dilaporkan itu dalam posisi apa? Namun untuk dugaan pidana kasus tersebut sudah tahap penyelidikan,” jelas Ibrahim Tompo.

(JerryPalohoon)

 

 

 

 

Ads




0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

four + 3 =