Bisnis dan Ekonomi

Inflasi Sulut Tembus 4,48 Persen hingga Juni 2026, BI Soroti Gangguan Pasokan Pangan

Inflasi Sulut Tembus 4,48 Persen hingga Juni 2026, BI Soroti Gangguan Pasokan Pangan
Aktivitas di Pasar Bersehati

Penulis: Sri Surya | Manado

Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi tahun berjalan (year to date) di Provinsi Sulawesi Utara hingga Juni 2026 mencapai 4,48 persen.

Angka tersebut telah melampaui sasaran inflasi nasional yang ditetapkan sebesar 2,5 persen ± 1 persen atau berada pada kisaran 1,5–3,5 persen.

Pada Juni 2026, Sulawesi Utara mengalami inflasi bulanan (month to month) sebesar 2,12 persen.

Sementara itu, Kota Manado mencatat inflasi bulanan sebesar 1,7 persen dengan inflasi tahun berjalan mencapai 4,05 persen.

Kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu oleh kelompok harga bergejolak (volatile food) yang meningkat hingga 14,71 persen.

Komoditas penyumbang utama inflasi meliputi cabai rawit, bawang merah, dan beras.

Lonjakan harga dipengaruhi terganggunya rantai pasok pangan antarwilayah, terutama dari Provinsi Gorontalo yang tengah dilanda banjir dan berstatus tanggap darurat hingga 24 Juli 2026.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, mengatakan tingginya inflasi di daerah tidak lepas dari keterbatasan produksi pangan lokal serta ketergantungan terhadap pasokan dari daerah lain.

“Produksi pertanian yang kita miliki di Sulawesi Utara belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Untuk cabai rawit dan cabai merah, kita sangat bergantung pada Gorontalo, sedangkan bawang merah banyak didatangkan dari Sulawesi Selatan seperti Sidrap dan Enrekang,” ujar Joko Supratikto.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat Sulawesi Utara rentan mengalami gejolak harga ketika distribusi pangan dari daerah pemasok terganggu.

Joko menegaskan, pengendalian inflasi harus mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan produsen agar perekonomian tetap sehat.

“Tingkat inflasi di kisaran 2,5 persen ± 1 persen atau 1,5 hingga 3,5 persen adalah level yang ideal. Angka ini efektif menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan harga di tingkat petani tetap wajar sehingga kesejahteraan mereka terjaga,” katanya.

BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas harga, terutama melalui upaya memperlancar distribusi pangan dan meningkatkan pasokan komoditas strategis.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara