
Tarif kamar hotel bintang empat dan lima di Dubai dan Abu Dhabi merosot tajam hingga 75 persen akibat eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan analisis RIA Novosti, penurunan ini dipicu pembatalan massal pemesanan wisatawan internasional menyusul ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang terus memanas sejak awal 2026.
Tingkat hunian hotel di dua kota utama Uni Emirat Arab itu kini jatuh di bawah 20 persen. Kondisi ini memaksa pengelola hotel memangkas tarif secara agresif untuk menarik wisatawan lokal melalui paket staycation.
Daftar Hotel Mewah yang Alami Penurunan Harga
Di Abu Dhabi, hotel bintang empat Mercure kini ditawarkan hanya US$54 per malam, turun drastis dari tarif normal US$200–250. Situs pemesanan juga menunjukkan TRYP by Wyndham mematok harga mulai US$57, sementara Ramada Downtown menawarkan tarif US$54 per malam.
Untuk segmen bintang lima, Rixos Marina Abu Dhabi kini dijual mulai US$225 per malam, turun lebih dari 66 persen dari harga normal. Ritz Carlton juga memangkas harga hingga mulai US$231, Shangri-La di angka US$201, sementara Radisson menawarkan kamar dari US$125 per malam.
Di Dubai, kondisi serupa terjadi di seluruh lini bintang. Hotel bintang lima Dusit Thani kini membuka harga mulai US$95 per malam, Hilton Jumeirah dari US$155, Pullman Jumeirah dibanderol US$90, Radisson Blu dari US$87, dan Movenpick Jumeirah mulai US$167 per malam.
Baca juga: Staycation dan Brunch, Pilihan Akhir Pekan Berkualitas di ARYADUTA Manado
Dampak Konflik terhadap Pariwisata UAE
Penurunan harga ini menjadi pukulan berat bagi industri pariwisata Dubai yang sebelumnya mencatat pertumbuhan pesat. Meskipun harga turun signifikan, fasilitas yang diberikan tetap sesuai standar hotel berbintang masing-masing.
Secara teknis, cuaca di Uni Emirat Arab berada pada suhu 25–30 derajat Celsius, kondisi yang sebenarnya nyaman bagi wisatawan. Namun faktor persepsi keamanan regional menjadi hambatan utama. Wisatawan mancanegara cenderung mencari destinasi yang lebih aman untuk menghindari risiko terjebak dalam zona konflik, meski Uni Emirat Arab sendiri relatif aman.
Pengelola hotel berharap situasi segera mereda agar tingkat kunjungan dan harga kamar bisa kembali pulih. Hingga kini, tren tarif rendah masih berlanjut sebagai strategi bertahan di tengah krisis regional yang hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
