
Harga emas turun drastis sepanjang Maret 2026 — justru di saat perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran masih berkecamuk di Teluk Persia. Penurunan tajam ini membuat para analis pasar bertanya-tanya: ada apa sebenarnya?
Padahal lazimnya, kondisi ketidakpastian geopolitik — termasuk krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran — justru mendorong investor berbondong-bondong memburu emas sebagai safe haven paling andal.
Harga Emas Turun 8 Persen dalam Sepekan, Terparah Sejak 2020
Melansir Suara.com, sejak Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran pada 28 Februari 2026, grafik harga emas terus melorot.
Dari puncaknya USD 5.394 per troy ounce di awal Maret, harga kini bertengger di angka USD 4.368 per troy ounce. Pada pekan lalu saja, terjadi pelemahan hampir 8 persen — yang terburuk sejak Maret 2020.
Harga emas Antam ikut tertekan. Setelah sempat menyentuh Rp3.135.000 per gram pada 2 Maret, kini turun ke Rp2.843.000 per gram.
Kondisi ini membuat para analis geleng-geleng kepala.
“Skala penurunan harga emas ini belum pernah saya saksikan sejak masa-masa kegelapan pada krisis finansial global 2008,” kata Tony Sycamore, analis pasar dari firma keuangan IG, kepada Reuters.
Sebagai perbandingan, pada 2008 harga emas sempat anjlok ke USD 700 per troy ounce dari puncak USD 1.000 akibat kolapsnya Lehman Brothers — sebelum akhirnya terus bergerak naik hingga level tertinggi sepanjang sejarah.
Dua Pemicu Utama di Balik Kejatuhan Harga Emas
Sebelumnya, logam mulia ini melonjak karena beberapa faktor sekaligus: inflasi tinggi di negara-negara maju dan ketegangan geopolitik era Trump membuat investor memburu aset aman. Ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve turut melemahkan dolar, sehingga emas semakin diburu. Di sisi lain, maraknya praktik call option — kontrak derivatif pembelian emas dengan harga diskon di masa depan — ikut mendongkrak harga ke level rekor.
Namun dua pemicu baru membalikkan arah pasar secara tiba-tiba.
Pertama, Trump mengumumkan penunjukan Kevin Warsh sebagai calon kepala bank sentral AS. Warsh dinilai pragmatis, independen, dan berpengalaman menghadapi krisis. Pasar menyambut positif karena ia dianggap mampu menolak tekanan Gedung Putih soal pemotongan suku bunga. Warsh juga dikenal anti-inflasi — memicu ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat yang berpotensi memperkuat dolar dan menekan harga logam mulia.
Kedua, kepanikan pasar memicu aksi jual besar-besaran.
“Emas dan perak sedang ada di tengah kepanikan pasar. Orang ramai-ramai menjual (emas dan perak) untuk menghindari kerugian dan risiko,” kata Direktur Riset BullionVault, Adrian Ash.
Baca juga: Penambang Sulut Bingung, Emas Sulit Dijual, DPRD Angkat Suara
Beli atau Jual Emas Sekarang? Ini Peringatan Para Ahli
Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan investor saat ini — ikut menjual untuk cut loss, atau justru memanfaatkan penurunan ini sebagai momentum beli?
Peneliti senior Pepperstone, Michael Brown, menegaskan bahwa penurunan yang terjadi saat ini bukan sinyal bahwa harga akan terus anjlok dalam jangka panjang.
Christopher Forbes dari CMC Markets wilayah Asia dan Timur Tengah menyebutnya sebagai “koreksi klasik” atas kenaikan luar biasa sebelumnya.
“Saat dolar melemah atau saat kinerja Warsh sudah kelihatan, maka pembeli emas akan kembali,” ujar Forbes, yang memperkirakan harga akan naik lagi dalam 12 bulan ke depan.
