Kondisi ini menandakan tekanan jual yang kuat di pasar domestik, memberikan peluang bagi para investor yang mencari titik masuk harga rendah.
Emas Antam, yang merupakan salah satu acuan utama di pasar lokal, mencatat penurunan sebesar Rp26.000 per gram pada Minggu, setelah sehari sebelumnya juga turun Rp9.000.
Dengan demikian, harga emas Antam kini dibanderol Rp1.958.000 per gram, dari sebelumnya Rp1.984.000.
Tren serupa juga dialami emas produksi Galeri24 yang turun Rp18.000, menjadi Rp1.891.000 per gram dari semula Rp1.909.000.
Penurunan paling drastis terlihat pada emas buatan UBS yang anjlok Rp32.000, kini berada di angka Rp1.902.000 per gram dari sebelumnya Rp1.934.000.
Sementara harga emas domestik cenderung menurun, pasar emas dunia menunjukkan dinamika yang sedikit berbeda.
Harga emas global sedikit menanjak pada awal perdagangan Senin (9/6) pagi ini, setelah sempat tertekan pada akhir perdagangan Jumat (6/6) lalu.
Penurunan pada Jumat pekan lalu disebabkan oleh data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari ekspektasi.
Dilansir dari Refinitiv, harga emas dunia mengalami penurunan sebesar 1,3 persen pada penutupan perdagangan Jumat (6/6/2025), berada di angka USD3.309 per troy ons.
Namun, pada awal perdagangan hari ini, Senin (9/6/2025) pukul 05:47 WIB, harga emas menunjukkan sedikit kenaikan sebesar 0,1 persen, mencapai angka USD3.312 per troy ons.
Kenaikan indeks dolar AS (DXY) pada Jumat pekan lalu menjadi faktor utama yang menekan harga emas dunia.
Seperti diketahui, emas dan dolar AS memiliki hubungan berlawanan; penguatan dolar cenderung membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga mengurangi permintaan.
DXY menguat setelah data pekerjaan AS terbaru menunjukkan adanya penambahan 139.000 pekerjaan pada bulan Mei, sedikit lebih baik dari perkiraan ekonom sebesar 126.000.
Data pekerjaan yang solid ini mengindikasikan pasar tenaga kerja AS masih kuat, yang dapat memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve.
(jenlywenur)
