Padahal Aldi punya satu kelebihan.
Melukis.
Dalam kepercayaan orang Islam (agamaku), seorang anak yang lahir sudah membawa potensi masing-masing.
Tinggal bagaimana menggali dan mengasahnya.
Di sini, penulis tidak sedang menyalahkan siapa-siapa.
Hanya berharap, ada perbaikan dalam sistim pendidikan kita, termasuk belajar dari kehidupan Aldi.
Penulis yakin kondisi serupa juga terjadi di sekolah lain.
Kembali ke topik dan kisah Aldi berlanjut.
Aldi kemudian memutuskan berhenti bersekolah.
Saya dan teman-teman sadar, keputusan Aldi itu memang sudah matang.
Lulus sekolah, hubungan saya dan teman-teman tetap terjalin.
Kami kemudian memutuskan mengunjugi Aldi.
Di rumahnya, Aldi sedang bersama seorang pria.
Gayanya bisa ditebak, pria tersebut seorang seniman.
Ternyata seniman itu sedang mengajak Aldi agar Aldi mau melukis lagi.
Maklum kekecewaan Aldi sejak di sekolah masih menjadi duri di hatinya.
Setelah Aldi bertemu dengan seniman tersebut, ia menjadi anak dengan kelebihan luar biasa.
Aldi berprestasi di bidang melukis.
Kisal Aldi membuat saya menyimpulkan sebenarnya pendidikan tergantung kualitas seorang pendidik.
Bagaimana menghasilkan siswa yang bukan hanya mengutamakan aspek kognitifnya.
Ini tujuan besar dari penulis, bahwa pendidikan kita harus membutuhkan seorang seperti seniman itu, yang benar-benar mengorbankan waktu mendidik Aldi.
Guru adalah pondasi bangsa.
Juga orang tua kedua kami.
Tanggungjawab ini membuat guru wajib menggali potensi setiap anak didiknya.
Selamat Memperingati Hari Pendidikan Nasional, Minggu, 2 Mei 2021.
(***)
