
Manado – Kasus stunting (kekerdilan pada anak) atau gagal gizi kini mulai menjadi pembicaraan dunia setelah pemanasan global dan energi baru terbarukan.
Pemerintah Republik Indonesia pun menaruh perhatian pada kasus ini, apalagi stunting berhubungan dengan generasi masa depan yang mana mencakup seluruh segi kehidupan bangsa, termasuk mempengaruhi kualitas angkatan kerja.
Presiden Joko Widodo pada awal 2022 menunjuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai badan yang bertanggung jawab dan mengetuai pelaksanaan percepatan penurunan angka stunting (kekerdilan pada anak) di Indonesia.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Utara Ir Diano Tino Tandaju,MErg mengungkapkan, kasus stunting kini mulai menjadi program prioritas nasional.
Anak-anak yang stunting tidak hanya mengalami pertumbuhan yang berbeda dari anak seusianya, seperti bertubuh kerdil, tapi juga memiliki ukuran otak yang lebih kecil dan sering sakit sehingga berpengaruh pada kemampuannya.
”Masalahnya Indonesia untuk stunting, kita nomor 4, salah satu terbesar di dunia. Ini yang jadi persoalan bagi kita semua,” ungkap Diano.
Lanjut Diano menjelaskan, saat ini sedang ada dalam tahapan menuju Indonesia emas 2045, di mana yang dibutuhkan adalah manusia Indonesia yang berkualitas, baik secara pemikiran maupun secara fisik.
“BKKBN sudah mulai di Manado Tua, pada waktu pencanangan Hari Keluarga Nasional. Kita membuat kegiatan di Manado Tua membantu anak-anak yang stunting. Perlu kita ingat, ada 2 kategori, stunting dan berisiko stunting,” ujar Diano.
Diano juga menjelaskan, ada 3 faktor yang membuat anak rawan stunting, yaitu kebersihan sehingga para orang tua perlu sadar bahwa stunting bukan hanya karena kurang gizi tapi juga dipengaruhi oleh kebersihan.
“Oleh karena itu kami gencar sekarang untuk mengajarkan juga kebersihan lingkungan, kebersihan air itu mempengaruhi makanya kemarin ada pelantikan tim TPS di Kota Manado oleh Pak Wali Kota. Beliau juga mengatakan, air bersih juga menjadi tujuan utama,” kata Diano.
Kedua, faktor gizi sedangkan yang ketiga dari BKKBN menilai dari sisi fertilitas banyak yang sudah punya anak terlalu tua kemudian anaknya terlalu banyak kadang-kadang.
Diano mengungkapkan, saat pihaknya pergi ke suatu kabupaten kota, ditemui keluarga yang anaknya 6 dan anak terakhir itu stunting.
Dari temuan tersebut, maka BKKN menganggap sangat perlu memberikan pemahaman yang benar tentang stunting sehingga kolaborasi semua pihak dibutuhkan.
Status gizi berdasarkan penelitian pada 2021 berada di angka 21,6% preferensi stunting dan diupayakan harus diturunkan 14 persen pada tahun 2024.
Itu sebabnya, BKKBN Provinsi Sulawesi Utara mengapresiasi kolaborasi yang tercipta, termasuk dengan Kodim 1309/Manado yang pertama kali melaksanakan peluncuran Gerakan Bersama Stop Stunting di Wilayah Kodim 1309/Manado.
Peluncuran gerakan tersebut telah dilaksanakan pada Senin (11/7/2022) kemarin di Makodim 1309/Manado.
“Semoga dengan kerjasama kolaborasi koordinasi dengan TNI dan bapak ibu sekalian kita mampu menurunkan stunting secara cepat bagi Sulawesi Utara. Bukan hanya bagi Sulawesi Utara tetapi bagi Indonesia pada umumnya. Mudah-mudahan stunting di kota Manado dan daerah sekitarnya boleh turun dalam waktu cepat. Kiranya Tuhan memberkati semua upaya dan daya kita. Bekerjalah dengan hati, bekerjalah dengan penuh semangat karena kami percaya kita bekerja untuk negara yang kita cintai ini,” pungkas Diano.
(srisurya)
