
Jakarta – Kisruh yang sementara melanda Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado dapat dikatakan memasuki babak baru. Pasalnya berbagai persoalan yang semenjak tahun 2010 dipolemikan oleh dosen-dosen yang ada di lingkungan kampus tersebut tak kunjung direspon dan ditanggapi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Lihat saja mulai dari perkara hukum DR Julius Ponto yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, Pemilihan Senat yang inkonstitusional dan status Senat yang berdasarkan keputusan Mahkama Agung iloegal sampai dengan dugaan beberapa kasus korupsi yang melibatkan pimpinan Unsrat sampai dengan Pejabat dilingkungan Kemendikbud.
Terkait dengan hal tersebut, para dosen yang melihat ketidakbereskan inipun mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Utara. Langkah yang ditempuh para akademisi ini, sebut saja DR Flora Kalalo SH MH, Prof DR Ellen Kumaat DEA, Prof DR Hengky Kiroh, Prof Dr Vanetia Danes, Prof DR B. Tulung, Prof DR Patar Rumapea, Prof DR E Sitanggang serta para akademi lainnya langsung direspon oleh DPRD dengan bertandang ke Komisi X DPR RI guna mengadukan persoalan ini agar secara kelembagaan DPR RI dapat mengunakan kewenangannya untuk mempertanyakan kepada Menteri Pendidikan Dan Kebuayaan RI.
Tepatnya 11/12 kemari, Tim DPRD Sulut yang langsung dikomandai oleh Ketua bersama dengan personil DPRD lainnya seperti Jedry Keintjem, Paul Tirajo serta para akademisi ini melakukan pertemuan dengan komisi X DPR RI dan langsung diterima oleh ketua Komisi X hi Syamsul Bachri SH MSc. Dalam pertemuanyang berlangsung kemarin sore di gedung Nusantara I, terkait dengan uneg-uneg Unsrat disampaikan dihadapan komisi X. Pada kesempatan tersebut Ketua Fraksi PDIP DPRD Sulut, jendry Keintjem meminta agar Komisi X segera memanggil hearing Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh yang sudah sekian lama terkesan membiarkan polemik Unsrat. Sama dengan Jendry, paul Tirajoh yang merupakan ketua badan kehormatan DPRD Sulut bahkan menduga ada kesengajaan dari pihak kemendikbud untuk membiarkan kasus Unsrat ini.
“Kemendikbud membuat kasus Unsrat mengambang, dan hal ini adalah karena diduga kuat terjadi perselingkuhan antara Dirjen Dikti Joko Santoso, Mendikbud M Nuh dan Rektor Unsrat Donald Rumokoy. Saya berani menyatakan bahwa sangat kuat dugaan ini,” papar eks pejabat bupati Minut ini dihadapan peserta hearing.
Dipenghujung pertemuan tersebut Jedry Keintjem masih sempat menginterupsi agar Komisi X tidak lupa meminta kepada Mendikbud untuk segera mengambil keputusan strategis di Unsrat yakni penetapan Plt Rektor. ” Dan sebagai masukan sebaiknya Plt Rektor Unsrat jangan dari internal Unsrat. terserah siapa yang ditunjuk mendikbud, yang terpenting adalah orang yang benar-benar bisa bersikap netral dan mampu membawa Unsrat untuk mengelar pemilihan rektor secara demokratis. karena sampai saat ini sudah tiga kali pilrek dilakukan namun semuannya gagal,” terang politisi PDIP ini.
Di akhir acara tersebut Flora Kalalo memberikan beberapa bukti-bukti dalam bentuk dokumen yang begitu tebal terkait dengan pelanggaran-pelanggaran secara hukum maupun secara administrasi yang dilakukan oleh rektor Unsrat saat ini. “Kami memberikan data-data ini agar supaya kami tidak dianggap mengarang semua pengaduan kami ini. semua yang kami aduhkan itu berlandaskan pada bukti-bukti yang ada,” tutup Flora Kalalo.(redaksi)

@pemburu jabatan; bukan main rektor ngana kurang pangge2 Don. Dapa lia penyusup ngana ini
bulum puas-puas lagi itu flo cs? so tatambah pasukan kotek dang. barisan sakit hati memerintah anggota dprd menuju dpr untuk melampiaskan sakit hati dengan cara memaksakan kehendak supaya dpr paksa menteri iko dorang punya mau? kasiang juga katuk ini anggota dprd tunduk dan bisa diperintah sesuka hati sama itu segelintir dosen dan gubes yang tidak lagi focus mengajar tetapi focus di melampiaskan saki hati dan bagimana cara mau kasih malintuang orang. takut mungkin dianggap nyandak bekerja kong so nyandak ta pilih lagi dan dengan terpaksa berlaku rupa itu pesuruhnya kelompok flo cs? cuma Tuhan dan itu anggota dprd yang tahu kang. kecewa dan sakit hati karena perjuangan mau kasih malintuang pa don nyandak berhasil malah masa jabatan don tatambah panjang. bisa-bisa nyandak tenang dan damai merayakan natal dan tahun baru ini kalo itu don nyandak jo malintuang kang? dpr musti iko dorang punya mau katuk. itu ori sudah iko dorang pe mau biar katuk itu ori dapat nilai d. kalau dpr tidak mau iko akang flo cs punya mau, maka dpr itu tidak becus dan tidak berguna kang? bagaimana katuk flo cs mo rayakan natal dgn damai kalo don bulum malintuang? pa dpr deng menteri ini dang katuk. nyandak katuk kasiang ngoni pa itu flo cs mo menyambut natal dengan saki hati? bagusnya itu flo cs pigi mangada cermin kong tanya pa bayangan di cermin kiapa kong itu perjuangan nyandak ada depe hasil sesuai keinginan. jangan-jangan karena Tuhan nyandak mengijinkan karena itu motivasi perjuangan salah besar. cuma gara-gara nyandak dapa itu jabatan yang diinginkan kong berbalik jadi musuh padahal dulunya ring nol dlm memperjuangkan supaya itu don segera definitive. dulu ancam-ancam rector lucky supaya iko dorang pe mau agar don jadi rektor, skarang lagi ancam-ancam rector don untuk iko lagi dorang punya mau. samua rector jo kua ngoni bekeng akang bagitu, ancam-ancam kong lapor-lapor sampe dpr lebe bagus lagi ke pbb dengan dewan keamanan lagi kalo perlu. atau bagusnya itu flo yang jadi rector kua. bagini nyandak ada cerita berjuang membawa cerita busuk sampe dpr setelah perjuangan di daerah gatot. coba kalau itu flo sabar tunggu periode don selesai atau periode merry selesai kong berjuang secara elegan dan intelek merebut jabatan, bagini flo mungkin so bertahta di atas puji-pujian civitas akademika fakultas hukum kang? katuk pa flo cs dang, mo menyambut natal maar itu hati nyandak ada kedamaian, nyandak ada pengampunan, nyandak ada kerendahan hati. kong flo cs mo klaim dorang pasti maso sorga? flo cs jo yang jawab sandiri.
Patut diapresiasi komentar dari Jubir Unsrat yg tetap menghargai gerakan2 yg dilakukan sekelompok Gubes dan dosen Unsrat, tdk tanggung2 sampai ke Komisi X DPR-RI.
Namun demikian, sangat disayangkan statement Ketua Fraksi PDI-P Deprxv Sulut yg berupaya utk memperkeruh suasana dgn cara memaksakan kehendak yg tdk sesuai dgn aturan yg berlaku. Padahal beliau berlatar blkg sarjana hukum.
Kalu ada pihak2 yg mendesak Kemdikbud segera tuntaskan permasalahan yg ada, itu sah2 saja. Tapi harus diingat bahwa apapun yg diambil oleh Kemdikbud harus diterima dgn lapang dada, jangan hanya mau terima kalau dirasa menguntungkan pihak mereka.
Ketidakpuasan sekelompok kecil Gubes dan dosen tsb yg didramatisir sangat tidak elok krn seakan-akan ada kesan bahwa Rektor Unsrst dapat mendikte lembaga2 KPK, Kejaksaan dan Kepolisian dan pihak Kemdikbud.
Apa mereka lupa, kondisi yg sama bisa saja terjadi kpd Rektor siapapun yg tidak disukai oleh sekelompok kecil orang di lain waktu?
Warga Unsrat yg sangat kritis thdp kepemimpinan yg ada tapi hendaknya tetap beretika shg tidak mengorbankan nilai2 kebebasan akademik yg bertanggungjawab.
Semoga semua pihak tetap membuka pintu maaf agar ada kedamaian di Unsrat, khususnya menjelang Natal ini. Amin.