Minsel

Diduga Perawatan Tidak Maksimal, Ibu Hamil Asal Tambelang Meninggal Dunia Di RS Kalooran Amurang

Amurang – Rumah Sakit (RS) Kalooran Amurang, Minahasa Selatan (Minsel) kembali menuai sorotan masyarakat, dimana perawatan atau pelayanan terhadap pasien dan fungsi tenaga medis di rumah sakit swasta ini dinilai kurang maksimal, memberikan perawatan yang menyebabkan pasien Meilan Ruus, warga Desa Tambelang, Kecamatan Tompaso Baru, Minsel meninggal dunia pasca melahirkan, Selasa (9/6/2015) lalu.

Menurut suami pasien, Defy Wowor mengaku, menyesalkan pelayanan para tenaga medis RS Kalooran yang dinilai lamban memberikan pertolongan hingga menyebabkan ibu empat orang anak tersebut meregang nyawa.

“Setidaknya pihak rumah sakit harus maksimal memberikan pertolongan. Memang ada tindakan medis, tetapi sudah terlambat karena pasien sudah dalam kondisi kritis. Ini sangat disayangkan,” kata Wowor.

Dia menjelaskan, istrinya memang sebelumnya menjalani proses melahirkan anak ke empatnya di RS Chantia Tompaso Baru. Namun, usai melahirkan, plasenta di dalam kandungan istrinya sulit dikeluarkan. Pihak rumah sakit berinisiatif langsung merujuk pasien ke RS Kalooran Amurang.

”Kondisi anak saya baik-baik saja. Namun istri saya dalam kondisi kurang baik saat dirujuk. Bukannya mendapat perawatan maksimal, pihak tenaga medis malah terkesan kurang perduli dan hanya memberikan perawatan seadanya ketika tiba di RS Kalooran,” sesalnya.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) RS Kalooran dr. Eleine Wenur ketika dikonfiramasi menuturkan, pasien memang dalam kondisi kritis saat dirujuk sekira pukul 03.25 wita Selasa (9/6/2015) ke RS Kalooran.

Pasien memang diberi perawatan berupa infus yang terpasang saat sampai di RS Kalooran. Pihak kami pun langsung memberikan tindakan berupa perawatan dengan memasang infus untuk menambah cairan dan darah.

”Pasien memang sudah dalam kondisi kritis. Kami berusaha mengeluarkan plasenta di kandungan pasien, tetapi hanya setengah yang bisa dikeluarkan. Plasenta yang lain menempel di dinding kandungan. Saat ditensi darah pasien hanya 60 palpasi. Memang kondisinya buruk. Kami sudah berupaya semaksimal mungkin, namun pasien tidak bertahan dan meninggal dunia beberapa jam kemudian atau sekira pukul 07.15 wita,” jawabnya. (sanlylendongan)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara